Lagu ini bicara tentang momen paling menyiksa dalam sebuah hubungan: ketika kamu tidak tahu apakah harus melanjutkan atau mengakhiri semuanya.
ROSÉ menggambarkan perasaan berdiri di persimpangan jalan, di mana separuh hatinya sudah menyerah tapi separuh lainnya masih tidak mau pergi.
Pertanyaan paling menyakitkan dalam lagu ini bukan tentang cinta itu sendiri, tapi tentang label: harus memanggil dia apa sekarang?
Chorus lagu ini penuh dengan pilihan yang bertentangan, mulai dari mantan, pacar, kekasih, teman, hingga seseorang yang harus dilupakan.
Setiap pilihan itu terasa sama beratnya, dan itulah inti dari rasa bingung yang ROSÉ ceritakan.
Lagu ini juga menyentuh soal ketakutan kehilangan rutinitas: apakah masih boleh menelepon setiap malam, atau tidak perlu menelepon lagi sama sekali?
Di verse kedua, ROSÉ menyebut sang kekasih sebagai satu-satunya oasisnya, gambaran betapa berartinya sosok itu di tengah kehidupan yang penuh tekanan.
Tapi oasis itu kini sudah berubah menjadi lautan air mata yang mengalir di wajah keduanya.
Ada satu momen yang terasa seperti napas di tengah kepedihan: pengakuan bahwa meskipun hubungan ini mungkin berakhir, ROSÉ sudah menjadi versi dirinya yang lebih baik karena orang ini.
Outro lagu ini tidak memberikan jawaban. Justru di sanalah kekuatannya: pertanyaan yang terus bergema tanpa ada yang berani menjawab.
Terjemahan Lirik Lagu call it the end dari ROSÉ
[Verse 1]
We’re at a crossroad
Kita sedang berada di persimpangan jalan
And we don’t know which way to go
Dan kita tidak tahu harus pergi ke arah mana
Part of me lost hope
Sebagian dariku sudah kehilangan harapan
And part of me just can’t let go
Dan sebagian lainnya hanya tidak bisa melepasmu
[Pre-Chorus]
We said we’d cross those bridges when they came
Kita bilang akan menghadapi masalah saat masalah itu datang
Now it’s time to give it a name
Sekarang sudah waktunya untuk memberi nama pada ini
Yeah, we’re at a crossroad
Ya, kita sedang berada di persimpangan
So, baby, let me know
Jadi, sayang, beritahu aku
[Chorus]
Do I call you my ex or do I call you my boyfriend?
Haruskah aku menyebutmu mantanku atau menyebutmu pacarku?
Call you a lover, do I call you a friend?
Menyebutmu kekasih, atau menyebutmu teman?
Call you the one or the one that got away?
Menyebutmu yang terpilih atau yang terlewatkan?
Someone I’ll just have to forget
Seseorang yang hanya harus kulupakan
Do I call you every night you’re gone or never call you again?
Haruskah aku meneleponmu setiap malam saat kau pergi atau tidak pernah meneleponmu lagi?
Do we have a future or should I call it the end?
Apakah kita punya masa depan atau haruskah aku menyebutnya sebagai akhir?
[Verse 2]
We were a moment
Kita pernah menjadi sebuah momen
And you were my only true oasis
Dan kamu adalah satu-satunya oasis sejatiku
Now all those oceans
Kini semua lautan itu
Are falling down our faces
Mengalir deras di wajah kita berdua
[Pre-Chorus]
So if we don’t see it through
Jadi jika kita tidak berhasil melewatinya
I’m a better me because of you
Aku menjadi versi yang lebih baik dari diriku karena kamu
Yeah, we’re at a crossroad
Ya, kita sedang berada di persimpangan
So, baby, let me know
Jadi, sayang, beritahu aku
[Outro]
Should I call it the end?
Haruskah aku menyebutnya sebagai akhir?
Are we lovers or friends?
Apakah kita kekasih atau teman?
Is this as good as it gets?
Apakah ini sudah yang terbaik yang bisa kita capai?
Should I call it the end?
Haruskah aku menyebutnya sebagai akhir?
Konteks di Balik Lagu call it the end dari ROSÉ
ROSÉ mulai menggarap album rosie setelah tur dunia Born Pink bersama BLACKPINK berakhir pada September 2023.
Ia kemudian memulai sesi rekaman di Los Angeles, sebuah kota yang asing baginya saat itu, sambil merasa bingung dan kehilangan arah.
Album rosie lahir dari pengalaman pribadi ROSÉ melewati putus cinta yang menyakitkan, dan ia sendiri menyebut album ini sebagai “jurnal kecilnya.”
“call it the end” adalah salah satu lagu ballad paling telanjang secara emosional di album tersebut, dibalut alunan piano minimalis yang membuat setiap kata terasa lebih berat.
Lagu ini ditulis bersama Elof Loelv, Michael Pollack, Emily Warren, dan Griff Clawson, yang juga bertindak sebagai produser.
Michael Pollack dan Emily Warren adalah dua penulis lagu berpengalaman yang karyanya sudah menjangkau berbagai artis besar dunia.
ROSÉ pernah menyebut dalam sebuah wawancara dengan majalah Paper bahwa seluruh album ini adalah cerminan dari apa yang ia sebut sebagai “usia dua puluhan yang mengerikan.”
Ia ingin bersikap lebih terbuka dan jujur agar pendengarnya bisa benar-benar mengenalnya, bukan hanya sebagai idola K-pop.
“call it the end” mencerminkan perasaan yang belum selesai: bukan tentang perpisahan yang tegas, tapi tentang menggantungnya waktu di tengah ketidakpastian.