Makna Lagu call it the end - ROSÉ

Artis

ROSÉ

Album

rosie

Tahun

2024

Genre

Ballad, Pop

Negara

Korea

Opini Redaksi

Lagu ini bicara tentang momen paling menyiksa dalam sebuah hubungan: ketika kamu tidak tahu apakah harus melanjutkan atau mengakhiri semuanya.

ROSÉ menggambarkan perasaan berdiri di persimpangan jalan, di mana separuh hatinya sudah menyerah tapi separuh lainnya masih tidak mau pergi.

Pertanyaan paling menyakitkan dalam lagu ini bukan tentang cinta itu sendiri, tapi tentang label: harus memanggil dia apa sekarang?

Chorus lagu ini penuh dengan pilihan yang bertentangan, mulai dari mantan, pacar, kekasih, teman, hingga seseorang yang harus dilupakan.

Setiap pilihan itu terasa sama beratnya, dan itulah inti dari rasa bingung yang ROSÉ ceritakan.

Lagu ini juga menyentuh soal ketakutan kehilangan rutinitas: apakah masih boleh menelepon setiap malam, atau tidak perlu menelepon lagi sama sekali?

Di verse kedua, ROSÉ menyebut sang kekasih sebagai satu-satunya oasisnya, gambaran betapa berartinya sosok itu di tengah kehidupan yang penuh tekanan.

Tapi oasis itu kini sudah berubah menjadi lautan air mata yang mengalir di wajah keduanya.

Ada satu momen yang terasa seperti napas di tengah kepedihan: pengakuan bahwa meskipun hubungan ini mungkin berakhir, ROSÉ sudah menjadi versi dirinya yang lebih baik karena orang ini.

Outro lagu ini tidak memberikan jawaban. Justru di sanalah kekuatannya: pertanyaan yang terus bergema tanpa ada yang berani menjawab.

Terjemahan Lirik Lagu call it the end dari ROSÉ

[Verse 1]

We’re at a crossroad

Kita sedang berada di persimpangan jalan

And we don’t know which way to go

Dan kita tidak tahu harus pergi ke arah mana

Part of me lost hope

Sebagian dariku sudah kehilangan harapan

And part of me just can’t let go

Dan sebagian lainnya hanya tidak bisa melepasmu

[Pre-Chorus]

We said we’d cross those bridges when they came

Kita bilang akan menghadapi masalah saat masalah itu datang

Now it’s time to give it a name

Sekarang sudah waktunya untuk memberi nama pada ini

Yeah, we’re at a crossroad

Ya, kita sedang berada di persimpangan

So, baby, let me know

Jadi, sayang, beritahu aku

[Chorus]

Do I call you my ex or do I call you my boyfriend?

Haruskah aku menyebutmu mantanku atau menyebutmu pacarku?

Call you a lover, do I call you a friend?

Menyebutmu kekasih, atau menyebutmu teman?

Call you the one or the one that got away?

Menyebutmu yang terpilih atau yang terlewatkan?

Someone I’ll just have to forget

Seseorang yang hanya harus kulupakan

Do I call you every night you’re gone or never call you again?

Haruskah aku meneleponmu setiap malam saat kau pergi atau tidak pernah meneleponmu lagi?

Do we have a future or should I call it the end?

Apakah kita punya masa depan atau haruskah aku menyebutnya sebagai akhir?

[Verse 2]

We were a moment

Kita pernah menjadi sebuah momen

And you were my only true oasis

Dan kamu adalah satu-satunya oasis sejatiku

Now all those oceans

Kini semua lautan itu

Are falling down our faces

Mengalir deras di wajah kita berdua

[Pre-Chorus]

So if we don’t see it through

Jadi jika kita tidak berhasil melewatinya

I’m a better me because of you

Aku menjadi versi yang lebih baik dari diriku karena kamu

Yeah, we’re at a crossroad

Ya, kita sedang berada di persimpangan

So, baby, let me know

Jadi, sayang, beritahu aku

[Outro]

Should I call it the end?

Haruskah aku menyebutnya sebagai akhir?

Are we lovers or friends?

Apakah kita kekasih atau teman?

Is this as good as it gets?

Apakah ini sudah yang terbaik yang bisa kita capai?

Should I call it the end?

Haruskah aku menyebutnya sebagai akhir?

Konteks di Balik Lagu call it the end dari ROSÉ

ROSÉ mulai menggarap album rosie setelah tur dunia Born Pink bersama BLACKPINK berakhir pada September 2023.

Ia kemudian memulai sesi rekaman di Los Angeles, sebuah kota yang asing baginya saat itu, sambil merasa bingung dan kehilangan arah.

Album rosie lahir dari pengalaman pribadi ROSÉ melewati putus cinta yang menyakitkan, dan ia sendiri menyebut album ini sebagai “jurnal kecilnya.”

“call it the end” adalah salah satu lagu ballad paling telanjang secara emosional di album tersebut, dibalut alunan piano minimalis yang membuat setiap kata terasa lebih berat.

Lagu ini ditulis bersama Elof Loelv, Michael Pollack, Emily Warren, dan Griff Clawson, yang juga bertindak sebagai produser.

Michael Pollack dan Emily Warren adalah dua penulis lagu berpengalaman yang karyanya sudah menjangkau berbagai artis besar dunia.

ROSÉ pernah menyebut dalam sebuah wawancara dengan majalah Paper bahwa seluruh album ini adalah cerminan dari apa yang ia sebut sebagai “usia dua puluhan yang mengerikan.”

Ia ingin bersikap lebih terbuka dan jujur agar pendengarnya bisa benar-benar mengenalnya, bukan hanya sebagai idola K-pop.

“call it the end” mencerminkan perasaan yang belum selesai: bukan tentang perpisahan yang tegas, tapi tentang menggantungnya waktu di tengah ketidakpastian.

Fakta Menarik tentang Lagu call it the end

ROSÉ Menulis Semua Lagu di Album rosie

Tidak seperti kebanyakan rilis K-pop yang melibatkan banyak penulis eksternal tanpa keterlibatan artis, ROSÉ menjadi co-writer untuk seluruh 12 lagu di album rosie, termasuk "call it the end". Ini menjadi bukti nyata komitmennya sebagai penulis lagu.

Album rosie Memecahkan Rekor Billboard

Saat debut, album rosie masuk di posisi nomor tiga Billboard 200 dengan lebih dari 100.000 unit di minggu pertama, menjadikannya album artis solo wanita K-pop dengan peringkat tertinggi sepanjang sejarah di chart tersebut.

Judul Album Diambil dari Nama Panggilan Pribadi

"Rosie" adalah nama panggilan yang hanya boleh digunakan oleh teman dekat dan keluarga ROSÉ. Dengan menamai albumnya demikian, ia ingin pendengarnya merasa dekat dengannya secara personal, bukan sekadar sebagai penggemar artis.

Piano Ballad yang Dipadukan dengan Produksi yang Tumbuh

Meski terasa sederhana di awal, produksi "call it the end" secara perlahan tumbuh menjadi lebih kaya seiring lagu berjalan, dengan paduan suara yang semakin penuh dan vokal ROSÉ yang semakin kuat di bagian akhir, menciptakan ledakan emosional yang terukur.

Emily Warren, Penulis di Balik Banyak Lagu Hits

Salah satu co-writer "call it the end" adalah Emily Warren, penulis lagu yang juga berada di balik beberapa hits global termasuk "New Rules" milik Dua Lipa dan "Don't Let Me Down" dari The Chainsmokers.

Lagu Ini Tidak Memberikan Jawaban, dan Itu Disengaja

Outro "call it the end" sengaja dibiarkan tanpa resolusi. Pertanyaan terus diulang tanpa dijawab, mencerminkan kenyataan bahwa dalam hubungan yang menggantung, seringkali tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan.