Angka “2112” bukan kode masa depan dan bukan juga referensi fiksi ilmiah.
Judul ini dibaca twenty-one twelve, merujuk langsung pada tanggal 21 Desember yang menjadi hari penting dalam hidup sang penulis lagu.
Faiz Novascotia, vokalis sekaligus gitaris Reality Club, menulis lagu ini sebagai catatan personal tentang mantan kekasihnya, di mana tanggal 21 Desember adalah hari ulang tahun sang mantan yang terus membekas di ingatannya.
Lagu ini bukan soal perpisahan yang penuh amarah, melainkan soal dua orang yang mencintai satu sama lain namun cukup dewasa untuk mengakui bahwa mereka tidak ditakdirkan untuk bersama.
Keduanya bertemu di usia 20, saat hidup terasa penuh kemungkinan dan cinta terasa seperti tanda dari semesta.
Perasaan itu nyata, hubungannya pun terasa kuat, tapi ada bahaya yang perlahan mereka rasakan namun abaikan.
Mereka memilih untuk tetap bertahan selama bisa, sampai akhirnya kesadaran mengalahkan keinginan.
Bagian paling menyayat dari lagu ini ada di spoken word-nya, di mana keduanya saling mengakui bahwa menahan satu sama lain dari takdir masing-masing bukanlah tindakan yang bijak.
Pertanyaan “were we ever meant to be?” yang terus diulang di bridge bukan sekadar ratapan, ini adalah pertanyaan jujur yang tidak punya jawaban mudah.
“2112” adalah bukti bahwa mencintai seseorang dan melepaskannya bisa terjadi di waktu yang bersamaan.
Terjemahan Lirik Lagu 2112 dari Reality Club
[Verse 1: Faiz]
I’ll fully comprehend why the 21st of December
Aku akan sepenuhnya memahami mengapa tanggal 21 Desember
Rings heavy on my battle-worn heart
Terasa begitu berat di hatiku yang sudah lelah berjuang
[Chorus: Faiz]
But who are we kidding?
Tapi siapa yang sedang kita bohongi?
Nobody’s winning
Tidak ada yang menang
In this tale of past and future love
Dalam kisah cinta masa lalu dan masa depan ini
[Verse 2: Fathia]
They were just 20
Mereka baru saja berusia 20 tahun
Show us the money
Tunjukkan pada kami (buktikan)
A smoke show picturesque
Sebuah penampilan yang memukau dan indah dipandang
Affair
Sebuah kisah asmara
It started as all things do
Semua dimulai seperti biasanya
A simple hello turned to
Sebuah sapaan sederhana berubah menjadi
Romantic visions far
Bayangan romantis yang jauh
Away
Di sana
[Chorus: Fathia]
They were too clever
Mereka terlalu cerdas
For it to be never
Untuk membiarkan ini tidak pernah terjadi
As they sunk into each other’s arms
Saat mereka tenggelam ke dalam pelukan satu sama lain
[Spoken word: Fathia]
And this is the part
Dan inilah bagiannya
Where our whole lives collide
Di mana seluruh hidup kita saling bertabrakan
The stars themselves fell
Bintang-bintang pun berjatuhan
Like we did that night
Seperti yang kita lakukan malam itu
Though it felt like the universe knew
Meski terasa seolah semesta sudah tahu
A pack of friends who couldn’t hold their laughter
Sekumpulan teman yang tidak bisa menahan tawa mereka
They chose to be painfully obvious in front of us
Mereka memilih untuk sangat jelas terlihat di depan kita
Slightly unaware or in denial of the dangers ahead
Sedikit tidak sadar atau menyangkal bahaya yang ada di depan
We thrust our weary hearts into each other’s arms
Kita mendorong hati kita yang lelah ke dalam pelukan satu sama lain
Content and comfortable
Puas dan nyaman
For years to come
Untuk tahun-tahun yang akan datang
[Verse 3: Faiz]
They felt it right and true
Mereka merasakannya benar dan tulus
Blessings and kisses
Berkah dan ciuman
As they thought it was the universe’s wishes
Karena mereka pikir itulah keinginan semesta
And though they could feel it then
Dan meski mereka bisa merasakannya saat itu
It’s not how they want to end
Bukan begitu cara mereka ingin mengakhirinya
So they turn their heads away
Jadi mereka memalingkan wajah
As if they were to say goodbye
Seolah mereka hendak mengucapkan selamat tinggal
[Chorus]
But clocks keep on ticking
Tapi jarum jam terus berputar
And life keeps on going
Dan hidup terus berjalan
To leave the pair behind at last
Untuk akhirnya meninggalkan mereka berdua di belakang
[Spoken word: Faiz & Fathia]
She said to me
Dia berkata padaku
And I said to her
Dan aku berkata padanya
To hold back each other’s true fate
Untuk menahan takdir sejati satu sama lain
Is not of our nature
Bukan sifat kita
Let’s be mature
Mari kita dewasa
Maybe you weren’t made for me
Mungkin kamu tidak diciptakan untukku
Nor I for you
Begitu pula aku untukmu
But I’d be damn lying
Tapi aku sungguh berbohong
If I think that that’s true
Jika aku pikir itu benar
[Bridge]
We were young and we were old
Kita pernah muda dan kita pernah tua
Life was warm then life was cold
Hidup dulu hangat lalu menjadi dingin
It gets harder, yes you’ll see
Akan semakin sulit, ya, kamu akan melihatnya
But were we ever meant to be?
Tapi apakah kita memang ditakdirkan untuk bersama?
[Outro]
We were young and we were old
Kita pernah muda dan kita pernah tua
Life was warm then life was cold
Hidup dulu hangat lalu menjadi dingin
It gets harder, yes you’ll see
Akan semakin sulit, ya, kamu akan melihatnya
But were we ever meant to?
Tapi apakah kita memang ditakdirkan untuk itu?
Konteks di Balik Lagu 2112 dari Reality Club
“2112” adalah lagu ke-11 dan penutup dari album kedua Reality Club, What Do You Really Know?, yang dirilis pada 30 Agustus 2019.
Posisinya sebagai lagu pamungkas di album bukan tanpa alasan, lagu ini terasa seperti penutup emosional dari keseluruhan perjalanan yang dibangun sepanjang album.
Faiz Novascotia mengungkapkan bahwa angka “2112” merujuk langsung pada tanggal 21 Desember, hari ulang tahun mantan kekasihnya yang menginspirasi lagu ini.
Kenangan akan tanggal itu tidak pernah benar-benar pergi, setiap tahun ia kembali muncul dan membawa serta beban perasaan yang belum selesai.
Reality Club memang dikenal menulis lagu dari pengalaman personal, dan “2112” adalah salah satu yang paling jujur di antara semua karya mereka.
Album What Do You Really Know? sendiri menandai lompatan besar bagi band asal Jakarta ini, dengan sound yang lebih gelap dan dewasa dibandingkan debut mereka Never Get Better (2017).
Lagu ini kemudian menjadi fenomena tersendiri di kalangan pendengar musik Indonesia setiap tanggal 21 Desember, dengan banyak orang merayakan momen tersebut menggunakan lagu ini sebagai latar belakang cerita mereka sendiri.