Makna Lagu Heirloom Pain - NIKI

Artis

NIKI

Album

Buzz

Tahun

2024

Genre

Folk-pop / Indie pop / Alt-pop

Negara

Indonesia

Opini Redaksi

“Heirloom Pain” adalah lagu tentang luka yang tidak pernah kamu minta, tapi sudah ada sejak kamu lahir.

NIKI menulis lagu ini sebagai refleksi atas perasaan tersesat di usia 20-an, ketika semua hal terasa belum pasti dan jawabannya belum kelihatan.

Lagu ini juga berbicara tentang trauma antargenerasi, yaitu rasa sakit yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti barang pusaka yang tak ada yang mau mengambilnya.

Judul “Heirloom Pain” sendiri meminjam kata heirloom yang artinya warisan benda berharga dari keluarga, tapi NIKI memakainya untuk menggambarkan sesuatu yang jauh lebih berat: emosi, kebiasaan buruk, dan ketakutan yang diwariskan tanpa sadar.

Di bagian verse pertama, NIKI menggambarkan dirinya membangun pelindung dari hal-hal yang menghantuinya, seolah dia tahu bahwa masa lalu bisa menyerang kapan saja.

Di chorus, dia menyebut amarah ayahnya dan kesalahan ibunya sebagai sesuatu yang kini ikut berjalan bersamanya setiap hari.

Lagu ini tidak menyalahkan orang tua atau nenek moyang, melainkan mengakui bahwa mereka juga punya luka yang belum sembuh ketika mereka membesarkan anak-anak mereka.

Ada baris yang sangat kuat di bagian outro: setiap orang jatuh cinta, melakukan kesalahan, punya anak, dan siklus itu terus berulang sampai akhirnya melahirkan kamu.

Tapi yang membuat lagu ini terasa berbeda dari lagu bertema sedih lainnya adalah kata-kata terakhirnya: doing it anyway, tetap melakukannya meski takut dan belum siap.

NIKI tidak memberikan jawaban atau solusi, dia hanya bilang bahwa keberanian bukan absennya rasa takut, tapi melangkah meski dengan rasa takut itu.

Terjemahan Lirik Lagu Heirloom Pain dari NIKI

[Verse 1]

Build a pillow barricade so the ghosts can’t get to me

Membangun barikade dari bantal agar hantu-hantu tidak bisa menjangkauku

Twenty-something instincts, feel like a deadbeat dad

Insting anak dua puluhan tahun, rasanya seperti ayah yang tidak bertanggung jawab

Never there when it counts and puts you right in therapy

Tidak pernah ada saat dibutuhkan dan membuatmu masuk ke terapi

Life is a gamble, baby, and you’ll have to live with that

Hidup itu perjudian, sayang, dan kamu harus hidup dengan kenyataan itu

[Pre-Chorus]

Oh, but I’ll be fine ’cause I always end up

Oh, tapi aku akan baik-baik saja karena aku selalu berakhir

Just fine, then I call a friend up

Baik-baik saja, lalu aku menelepon seorang teman

That’s just how it is

Begitulah adanya

[Chorus]

And I wake up tired and vaguely sore

Dan aku bangun dengan lelah dan sedikit nyeri

Stir a pot when I’m feeling bored

Mengaduk panci saat aku merasa bosan

Full-sending a lot, only halfway sure

Melakukan segalanya sepenuh hati, padahal hanya setengah yakin

Walking around with heirloom pain

Berjalan-jalan membawa luka warisan

Dad’s temper and Mom’s mistakes

Amarah ayah dan kesalahan ibu

And always afraid to fall flat on my face

Dan selalu takut untuk jatuh tersungkur

But doing it anyway

Tapi tetap melakukannya

[Post-Chorus]

I’m doing it anyway

Aku tetap melakukannya

[Verse 2]

Walls up to the skies, many men have marched around

Dinding setinggi langit, banyak orang telah berbaris mengelilinginya

To no avail, there’s Achilles, then there’s his God-forsaken heel

Namun sia-sia, ada Achilles, lalu ada tumitnya yang terkutuk

[Pre-Chorus]

I do the dishes and tend the garden

Aku mencuci piring dan merawat kebun

Soften up where I used to harden

Melembutkan diri di tempat yang dulu aku keraskan

And take a moonlit walk (One, two, three)

Dan berjalan di bawah cahaya bulan (Satu, dua, tiga)

[Chorus]

And I wake up tired and vaguely sore

Dan aku bangun dengan lelah dan sedikit nyeri

Stir a pot when I’m feeling bored

Mengaduk panci saat aku merasa bosan

Full-sending a lot, only halfway sure, oh

Melakukan segalanya sepenuh hati, padahal hanya setengah yakin

Walking around with heirloom pain

Berjalan-jalan membawa luka warisan

Grandma left but her heartache stayed

Nenek sudah pergi tapi kesedihannya tetap tinggal

And now I’m always afraid to take up space

Dan sekarang aku selalu takut untuk mengambil ruang

Yet doing it anyway

Namun tetap melakukannya

[Post-Chorus]

I’m doing it anyway, oh

Aku tetap melakukannya

[Outro]

People fall in love and fuck up

Orang-orang jatuh cinta dan melakukan kesalahan

And have kids who fall in love and fuck up

Dan memiliki anak-anak yang jatuh cinta dan melakukan kesalahan

Who have kids that fall in love

Yang memiliki anak-anak yang jatuh cinta

And have you

Dan memilikimu

People fall in love and fuck up

Orang-orang jatuh cinta dan melakukan kesalahan

We all fall in love and fuck up

Kita semua jatuh cinta dan melakukan kesalahan

You will fall in love and fuck up too

Kamu pun akan jatuh cinta dan melakukan kesalahan juga

Konteks di Balik Lagu Heirloom Pain dari NIKI

“Heirloom Pain” adalah track penutup dari album ketiga NIKI yang berjudul Buzz, dirilis pada 9 Agustus 2024 melalui label 88rising.

NIKI sendiri pernah menjelaskan bahwa lagu ini sepenuhnya tentang perasaan tersesat di usia 20-an dan tidak tahu jawabannya, sekaligus menyentuh tema yang menurutnya cukup berat: trauma antargenerasi yang diwariskan seperti hantu dari satu keluarga ke keluarga berikutnya.

Album Buzz lahir dari krisis identitas yang dialami NIKI selama beberapa tahun terakhir sebelum merilis album ini, ketika dia mencoba menemukan suara dan jati dirinya sebagai artis.

NIKI menyebut Joni Mitchell sebagai bintang utara penulisan lagunya, dan turut terinspirasi dari sosok seperti Stevie Nicks, Carly Simon, dan Liz Phair saat mengerjakan album ini.

Untuk produksi Buzz, NIKI merekrut Tyler Chester yang pernah bekerja dengan Sara Bareilles, dan Ethan Gruska yang dikenal lewat kolaborasinya dengan Fiona Apple dan Phoebe Bridgers.

Album ini ditulis sebagian besar saat NIKI sedang dalam tur dunia, sebuah periode yang ia gambarkan sebagai waktu yang sekaligus menguras energi dan memberinya dorongan kreatif yang kuat.

“Heirloom Pain” bersama track penutup lainnya “Nothing Can” disebut para kritikus sebagai momen katarsis terkuat di album Buzz, di mana NIKI akhirnya keluar dari zona nyamannya secara lirik.

Lagu ini juga mencerminkan pengalaman NIKI sebagai perempuan muda Indonesia yang pindah ke Amerika Serikat dan terus berusaha menemukan tempatnya, antara akar keluarga dan kehidupan baru yang ia bangun sendiri.

Fakta Menarik tentang Lagu Heirloom Pain

NIKI Menulis Lagu Ini di Usia 25 Tahun

Saat album Buzz dirilis, NIKI baru saja berulang tahun ke-25 dan menyebut ini sebagai album terbaik yang pernah ia buat, sebuah pernyataan yang cukup berani dari seseorang yang sudah memulai karier profesionalnya sejak usia 15 tahun.

Buzz Adalah Album Pertama yang Dibuat dengan Keyakinan Penuh

NIKI mengakui bahwa baru di album ketiga inilah dia merasa benar-benar yakin dengan setiap keputusan kreatif yang diambil, setelah bertahun-tahun mencoba-coba berbagai arah musik dari soul, R&B, hingga pop atmosferik.

Nama Album Terinspirasi dari Lebah di Kebun

NIKI gemar berkebun dan setiap musim semi ia selalu mendengar suara dengungan lebah madu di kebunnya, dan dari sinilah nama Buzz lahir sebagai simbol sesuatu yang akan segera terjadi dan penuh kemungkinan.

Lagu Ini Ditampilkan dalam Medley Saat Tur

Selama Buzz World Tour yang mencakup 44 negara, NIKI memadukan "Heirloom Pain" dengan lagu lamanya "Before" dalam sebuah medley di atas panggung, meskipun banyak penggemar yang berharap mendengar keduanya secara penuh dan terpisah.

NIKI Adalah Artis Indonesia Paling Banyak Didengarkan di Spotify

Dengan lebih dari 4,6 miliar streaming di Spotify per April 2025, NIKI memegang gelar artis Indonesia paling banyak didengarkan di platform tersebut, sebuah pencapaian yang dimulai dari cover gitar akustik di YouTube saat masih SMA di Jakarta.

Outro Lagu Ini Jadi Viral di Media Sosial

Bagian outro "Heirloom Pain" yang menceritakan siklus manusia jatuh cinta, membuat kesalahan, dan punya anak yang kemudian mengulangi hal yang sama, menjadi salah satu penggalan lirik paling banyak dikutip dan dibagikan oleh pendengar di berbagai platform karena terasa seperti pernyataan yang mewakili banyak orang sekaligus.