“Heirloom Pain” adalah lagu tentang luka yang tidak pernah kamu minta, tapi sudah ada sejak kamu lahir.
NIKI menulis lagu ini sebagai refleksi atas perasaan tersesat di usia 20-an, ketika semua hal terasa belum pasti dan jawabannya belum kelihatan.
Lagu ini juga berbicara tentang trauma antargenerasi, yaitu rasa sakit yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti barang pusaka yang tak ada yang mau mengambilnya.
Judul “Heirloom Pain” sendiri meminjam kata heirloom yang artinya warisan benda berharga dari keluarga, tapi NIKI memakainya untuk menggambarkan sesuatu yang jauh lebih berat: emosi, kebiasaan buruk, dan ketakutan yang diwariskan tanpa sadar.
Di bagian verse pertama, NIKI menggambarkan dirinya membangun pelindung dari hal-hal yang menghantuinya, seolah dia tahu bahwa masa lalu bisa menyerang kapan saja.
Di chorus, dia menyebut amarah ayahnya dan kesalahan ibunya sebagai sesuatu yang kini ikut berjalan bersamanya setiap hari.
Lagu ini tidak menyalahkan orang tua atau nenek moyang, melainkan mengakui bahwa mereka juga punya luka yang belum sembuh ketika mereka membesarkan anak-anak mereka.
Ada baris yang sangat kuat di bagian outro: setiap orang jatuh cinta, melakukan kesalahan, punya anak, dan siklus itu terus berulang sampai akhirnya melahirkan kamu.
Tapi yang membuat lagu ini terasa berbeda dari lagu bertema sedih lainnya adalah kata-kata terakhirnya: doing it anyway, tetap melakukannya meski takut dan belum siap.
NIKI tidak memberikan jawaban atau solusi, dia hanya bilang bahwa keberanian bukan absennya rasa takut, tapi melangkah meski dengan rasa takut itu.
Terjemahan Lirik Lagu Heirloom Pain dari NIKI
[Verse 1]
Build a pillow barricade so the ghosts can’t get to me
Membangun barikade dari bantal agar hantu-hantu tidak bisa menjangkauku
Twenty-something instincts, feel like a deadbeat dad
Insting anak dua puluhan tahun, rasanya seperti ayah yang tidak bertanggung jawab
Never there when it counts and puts you right in therapy
Tidak pernah ada saat dibutuhkan dan membuatmu masuk ke terapi
Life is a gamble, baby, and you’ll have to live with that
Hidup itu perjudian, sayang, dan kamu harus hidup dengan kenyataan itu
[Pre-Chorus]
Oh, but I’ll be fine ’cause I always end up
Oh, tapi aku akan baik-baik saja karena aku selalu berakhir
Just fine, then I call a friend up
Baik-baik saja, lalu aku menelepon seorang teman
That’s just how it is
Begitulah adanya
[Chorus]
And I wake up tired and vaguely sore
Dan aku bangun dengan lelah dan sedikit nyeri
Stir a pot when I’m feeling bored
Mengaduk panci saat aku merasa bosan
Full-sending a lot, only halfway sure
Melakukan segalanya sepenuh hati, padahal hanya setengah yakin
Walking around with heirloom pain
Berjalan-jalan membawa luka warisan
Dad’s temper and Mom’s mistakes
Amarah ayah dan kesalahan ibu
And always afraid to fall flat on my face
Dan selalu takut untuk jatuh tersungkur
But doing it anyway
Tapi tetap melakukannya
[Post-Chorus]
I’m doing it anyway
Aku tetap melakukannya
[Verse 2]
Walls up to the skies, many men have marched around
Dinding setinggi langit, banyak orang telah berbaris mengelilinginya
To no avail, there’s Achilles, then there’s his God-forsaken heel
Namun sia-sia, ada Achilles, lalu ada tumitnya yang terkutuk
[Pre-Chorus]
I do the dishes and tend the garden
Aku mencuci piring dan merawat kebun
Soften up where I used to harden
Melembutkan diri di tempat yang dulu aku keraskan
And take a moonlit walk (One, two, three)
Dan berjalan di bawah cahaya bulan (Satu, dua, tiga)
[Chorus]
And I wake up tired and vaguely sore
Dan aku bangun dengan lelah dan sedikit nyeri
Stir a pot when I’m feeling bored
Mengaduk panci saat aku merasa bosan
Full-sending a lot, only halfway sure, oh
Melakukan segalanya sepenuh hati, padahal hanya setengah yakin
Walking around with heirloom pain
Berjalan-jalan membawa luka warisan
Grandma left but her heartache stayed
Nenek sudah pergi tapi kesedihannya tetap tinggal
And now I’m always afraid to take up space
Dan sekarang aku selalu takut untuk mengambil ruang
Yet doing it anyway
Namun tetap melakukannya
[Post-Chorus]
I’m doing it anyway, oh
Aku tetap melakukannya
[Outro]
People fall in love and fuck up
Orang-orang jatuh cinta dan melakukan kesalahan
And have kids who fall in love and fuck up
Dan memiliki anak-anak yang jatuh cinta dan melakukan kesalahan
Who have kids that fall in love
Yang memiliki anak-anak yang jatuh cinta
And have you
Dan memilikimu
People fall in love and fuck up
Orang-orang jatuh cinta dan melakukan kesalahan
We all fall in love and fuck up
Kita semua jatuh cinta dan melakukan kesalahan
You will fall in love and fuck up too
Kamu pun akan jatuh cinta dan melakukan kesalahan juga
Konteks di Balik Lagu Heirloom Pain dari NIKI
“Heirloom Pain” adalah track penutup dari album ketiga NIKI yang berjudul Buzz, dirilis pada 9 Agustus 2024 melalui label 88rising.
NIKI sendiri pernah menjelaskan bahwa lagu ini sepenuhnya tentang perasaan tersesat di usia 20-an dan tidak tahu jawabannya, sekaligus menyentuh tema yang menurutnya cukup berat: trauma antargenerasi yang diwariskan seperti hantu dari satu keluarga ke keluarga berikutnya.
Album Buzz lahir dari krisis identitas yang dialami NIKI selama beberapa tahun terakhir sebelum merilis album ini, ketika dia mencoba menemukan suara dan jati dirinya sebagai artis.
NIKI menyebut Joni Mitchell sebagai bintang utara penulisan lagunya, dan turut terinspirasi dari sosok seperti Stevie Nicks, Carly Simon, dan Liz Phair saat mengerjakan album ini.
Untuk produksi Buzz, NIKI merekrut Tyler Chester yang pernah bekerja dengan Sara Bareilles, dan Ethan Gruska yang dikenal lewat kolaborasinya dengan Fiona Apple dan Phoebe Bridgers.
Album ini ditulis sebagian besar saat NIKI sedang dalam tur dunia, sebuah periode yang ia gambarkan sebagai waktu yang sekaligus menguras energi dan memberinya dorongan kreatif yang kuat.
“Heirloom Pain” bersama track penutup lainnya “Nothing Can” disebut para kritikus sebagai momen katarsis terkuat di album Buzz, di mana NIKI akhirnya keluar dari zona nyamannya secara lirik.
Lagu ini juga mencerminkan pengalaman NIKI sebagai perempuan muda Indonesia yang pindah ke Amerika Serikat dan terus berusaha menemukan tempatnya, antara akar keluarga dan kehidupan baru yang ia bangun sendiri.