Lagu ini bercerita tentang keyakinan bahwa dua orang yang ditakdirkan bertemu selalu terhubung oleh sesuatu yang tidak terlihat, jauh sebelum mereka saling mengenal.
Taylor menelusuri kembali momen-momen kecil dari masa lalu yang ternyata membawa keduanya ke tempat yang sama.
Apakah kamu pernah merasakan bahwa semua hal buruk yang kamu alami ternyata punya tujuan tersendiri?
Itulah inti dari lagu ini: bahwa setiap luka, setiap kesalahan, dan setiap jalan yang salah ternyata menuntun ke arah yang benar.
Taylor menggambarkan dirinya sebagai gadis muda yang bermimpi bertemu seseorang di Centennial Park Nashville, sementara di belahan dunia lain, orang itu sedang bekerja di toko yogurt di London.
Dua kehidupan yang sama sekali berbeda, namun ternyata selalu bersinggungan tanpa mereka sadari.
Chorus lagu ini mengajukan pertanyaan yang indah: bukankah menyenangkan untuk membayangkan bahwa sejak awal ada benang tak kasat mata yang mengikat kita satu sama lain?
Bridge-nya menjadi bagian paling kuat, karena di sanalah Taylor mengakui bahwa masa lalunya yang pahit justru menjadi pelindung dan pembentuk dirinya.
Lagu ini ditutup dengan ketenangan dan rasa syukur, bukan kesedihan, karena Taylor sadar bahwa semua perjalanan berat itu akhirnya membawanya ke surga.
Terjemahan Lirik Lagu invisible string dari Taylor Swift
[Verse 1]
Green was the color of the grass
Hijau adalah warna rumput
Where I used to read at Centennial Park
Di mana aku dulu membaca di Centennial Park
I used to think I would meet somebody there
Aku dulu berpikir akan bertemu seseorang di sana
Teal was the color of your shirt
Biru kehijauan adalah warna bajumu
When you were sixteen at the yogurt shop
Saat kamu berusia enam belas tahun di toko yogurt
You used to work at to make a little money
Yang dulu kamu bekerja di sana untuk menghasilkan sedikit uang
[Chorus]
Time, curious time
Waktu, waktu yang penuh rasa ingin tahu
Gave me no compasses, gave me no signs
Tidak memberiku kompas, tidak memberiku tanda
Were there clues I didn’t see?
Adakah petunjuk yang tidak aku lihat?
And isn’t it just so pretty to think
Dan bukankah sangat indah untuk membayangkan
All along there was some
Bahwa sejak awal ada
Invisible string
Benang tak kasat mata
Tying you to me?
Yang mengikatmu padaku?
Ooh-ooh-ooh-ooh
Ooh-ooh-ooh-ooh
[Verse 2]
Bad was the blood of the song in the cab
Merah adalah darah dari lagu itu di dalam taksi
On your first trip to LA
Saat kamu pertama kali pergi ke LA
You ate at my favorite spot for dinner
Kamu makan di tempat makan favoritku untuk makan malam
Bold was the waitress on our three-year trip
Berani adalah pelayan di perjalanan tiga tahun kami
Getting lunch down by the Lakes
Saat makan siang di tepi danau
She said I looked like an American singer
Dia bilang aku terlihat seperti penyanyi Amerika
[Chorus]
Time, mystical time
Waktu, waktu yang mistis
Cutting me open, then healing me fine
Membukaku, lalu menyembuhkanku dengan baik
Were there clues I didn’t see?
Adakah petunjuk yang tidak aku lihat?
And isn’t it just so pretty to think
Dan bukankah sangat indah untuk membayangkan
All along there was some
Bahwa sejak awal ada
Invisible string
Benang tak kasat mata
Tying you to me?
Yang mengikatmu padaku?
Ooh-ooh-ooh-ooh
Ooh-ooh-ooh-ooh
[Bridge]
A string that pulled me
Sebuah benang yang menarikku
Out of all the wrong arms, right into that dive bar
Keluar dari semua pelukan yang salah, tepat ke bar itu
Something wrapped all of my past mistakes in barbed wire
Sesuatu membungkus semua kesalahanku di masa lalu dengan kawat berduri
Chains around my demons
Rantai di sekeliling setan-setanku
Wool to brave the seasons
Wol untuk menghadapi segala musim
One single thread of gold
Satu benang emas
Tied me to you
Mengikatku padamu
[Verse 3]
Cold was the steel of my axe to grind
Dingin adalah baja dari kapak dendamku
For the boys who broke my heart
Untuk para lelaki yang mematahkan hatiku
Now I send their babies presents
Kini aku mengirimkan hadiah untuk bayi-bayi mereka
Gold was the color of the leaves
Emas adalah warna daun-daun
When I showed you around Centennial Park
Saat aku menunjukkan Centennial Park padamu
Hell was the journey, but it brought me heaven
Neraka adalah perjalanannya, tapi itu membawaku ke surga
[Chorus]
Time, wondrous time
Waktu, waktu yang menakjubkan
Gave me the blues and then purple-pink skies
Memberiku kesedihan lalu langit ungu kemerahan
And it’s cool, baby, with me
Dan itu baik-baik saja bagiku, sayang
And isn’t it just so pretty to think
Dan bukankah sangat indah untuk membayangkan
All along there was some
Bahwa sejak awal ada
Invisible string
Benang tak kasat mata
Tying you to me?
Yang mengikatmu padaku?
Ooh-ooh-ooh-ooh
Ooh-ooh-ooh-ooh
Me
Padaku
Ooh-ooh-ooh-ooh
Ooh-ooh-ooh-ooh
[Outro]
(Ah-ah-ah)
(Ah-ah-ah)
(Ah-ah-ah)
(Ah-ah-ah)
Konteks di Balik Lagu invisible string dari Taylor Swift
Taylor Swift menciptakan album Folklore selama masa karantina pandemi COVID-19 pada tahun 2020, saat imajinasinya bebas berkelana tanpa batas.
Dalam premis yang ia tulis untuk album tersebut, ia menyebut salah satu gambaran yang menginspirasinya adalah tentang sebuah benang tunggal yang mengikat seseorang pada takdirnya.
Aaron Dessner dari band The National adalah produser lagu ini, yang awalnya bermula dari petikan gitar akustik yang sudah ia mainkan selama berbulan-bulan.
Saat Taylor mendengar demo tersebut, ia langsung tahu bahwa musik itu cocok dengan lirik tentang asal-usul sebuah hubungan yang sudah ia tulis sebelumnya.
Lagu ini diyakini banyak penggemar sebagai cerita tentang perjalanan Taylor menuju hubungannya dengan aktor asal Inggris, Joe Alwyn, berdasarkan sejumlah detail spesifik dalam liriknya.
Detail tentang kemeja biru di toko yogurt merujuk pada pekerjaan paruh waktu Alwyn remaja di sebuah kedai yogurt beku di London.
Baris tentang perjalanan tiga tahun ke danau merujuk pada kunjungan keduanya ke kawasan Lake District di Inggris, yang juga menjadi latar bonus track Folklore berjudul “The Lakes”.
Taylor mengungkapkan dalam film dokumenter konser Folklore: The Long Pond Studio Sessions bahwa baris tentang mengirimkan hadiah bayi untuk mantan kekasih memang terjadi di kehidupan nyata.
Lagu ini juga menyimpan referensi sastra dari novel Jane Eyre karya Charlotte Brontë dan The Sun Also Rises karya Ernest Hemingway, yang keduanya menggunakan gambaran serupa tentang benang atau ikatan yang menghubungkan dua jiwa.