Makna Lagu invisible string - Taylor Swift

Artis

Taylor Swift

Album

Folklore

Tahun

2020

Genre

Folk, Indie Pop, Country, Blues

Negara

Amerika

Opini Redaksi

Lagu ini bercerita tentang keyakinan bahwa dua orang yang ditakdirkan bertemu selalu terhubung oleh sesuatu yang tidak terlihat, jauh sebelum mereka saling mengenal.

Taylor menelusuri kembali momen-momen kecil dari masa lalu yang ternyata membawa keduanya ke tempat yang sama.

Apakah kamu pernah merasakan bahwa semua hal buruk yang kamu alami ternyata punya tujuan tersendiri?

Itulah inti dari lagu ini: bahwa setiap luka, setiap kesalahan, dan setiap jalan yang salah ternyata menuntun ke arah yang benar.

Taylor menggambarkan dirinya sebagai gadis muda yang bermimpi bertemu seseorang di Centennial Park Nashville, sementara di belahan dunia lain, orang itu sedang bekerja di toko yogurt di London.

Dua kehidupan yang sama sekali berbeda, namun ternyata selalu bersinggungan tanpa mereka sadari.

Chorus lagu ini mengajukan pertanyaan yang indah: bukankah menyenangkan untuk membayangkan bahwa sejak awal ada benang tak kasat mata yang mengikat kita satu sama lain?

Bridge-nya menjadi bagian paling kuat, karena di sanalah Taylor mengakui bahwa masa lalunya yang pahit justru menjadi pelindung dan pembentuk dirinya.

Lagu ini ditutup dengan ketenangan dan rasa syukur, bukan kesedihan, karena Taylor sadar bahwa semua perjalanan berat itu akhirnya membawanya ke surga.

Terjemahan Lirik Lagu invisible string dari Taylor Swift

[Verse 1]

Green was the color of the grass

Hijau adalah warna rumput

Where I used to read at Centennial Park

Di mana aku dulu membaca di Centennial Park

I used to think I would meet somebody there

Aku dulu berpikir akan bertemu seseorang di sana

Teal was the color of your shirt

Biru kehijauan adalah warna bajumu

When you were sixteen at the yogurt shop

Saat kamu berusia enam belas tahun di toko yogurt

You used to work at to make a little money

Yang dulu kamu bekerja di sana untuk menghasilkan sedikit uang

[Chorus]

Time, curious time

Waktu, waktu yang penuh rasa ingin tahu

Gave me no compasses, gave me no signs

Tidak memberiku kompas, tidak memberiku tanda

Were there clues I didn’t see?

Adakah petunjuk yang tidak aku lihat?

And isn’t it just so pretty to think

Dan bukankah sangat indah untuk membayangkan

All along there was some

Bahwa sejak awal ada

Invisible string

Benang tak kasat mata

Tying you to me?

Yang mengikatmu padaku?

Ooh-ooh-ooh-ooh

Ooh-ooh-ooh-ooh

[Verse 2]

Bad was the blood of the song in the cab

Merah adalah darah dari lagu itu di dalam taksi

On your first trip to LA

Saat kamu pertama kali pergi ke LA

You ate at my favorite spot for dinner

Kamu makan di tempat makan favoritku untuk makan malam

Bold was the waitress on our three-year trip

Berani adalah pelayan di perjalanan tiga tahun kami

Getting lunch down by the Lakes

Saat makan siang di tepi danau

She said I looked like an American singer

Dia bilang aku terlihat seperti penyanyi Amerika

[Chorus]

Time, mystical time

Waktu, waktu yang mistis

Cutting me open, then healing me fine

Membukaku, lalu menyembuhkanku dengan baik

Were there clues I didn’t see?

Adakah petunjuk yang tidak aku lihat?

And isn’t it just so pretty to think

Dan bukankah sangat indah untuk membayangkan

All along there was some

Bahwa sejak awal ada

Invisible string

Benang tak kasat mata

Tying you to me?

Yang mengikatmu padaku?

Ooh-ooh-ooh-ooh

Ooh-ooh-ooh-ooh

[Bridge]

A string that pulled me

Sebuah benang yang menarikku

Out of all the wrong arms, right into that dive bar

Keluar dari semua pelukan yang salah, tepat ke bar itu

Something wrapped all of my past mistakes in barbed wire

Sesuatu membungkus semua kesalahanku di masa lalu dengan kawat berduri

Chains around my demons

Rantai di sekeliling setan-setanku

Wool to brave the seasons

Wol untuk menghadapi segala musim

One single thread of gold

Satu benang emas

Tied me to you

Mengikatku padamu

[Verse 3]

Cold was the steel of my axe to grind

Dingin adalah baja dari kapak dendamku

For the boys who broke my heart

Untuk para lelaki yang mematahkan hatiku

Now I send their babies presents

Kini aku mengirimkan hadiah untuk bayi-bayi mereka

Gold was the color of the leaves

Emas adalah warna daun-daun

When I showed you around Centennial Park

Saat aku menunjukkan Centennial Park padamu

Hell was the journey, but it brought me heaven

Neraka adalah perjalanannya, tapi itu membawaku ke surga

[Chorus]

Time, wondrous time

Waktu, waktu yang menakjubkan

Gave me the blues and then purple-pink skies

Memberiku kesedihan lalu langit ungu kemerahan

And it’s cool, baby, with me

Dan itu baik-baik saja bagiku, sayang

And isn’t it just so pretty to think

Dan bukankah sangat indah untuk membayangkan

All along there was some

Bahwa sejak awal ada

Invisible string

Benang tak kasat mata

Tying you to me?

Yang mengikatmu padaku?

Ooh-ooh-ooh-ooh

Ooh-ooh-ooh-ooh

Me

Padaku

Ooh-ooh-ooh-ooh

Ooh-ooh-ooh-ooh

[Outro]

(Ah-ah-ah)

(Ah-ah-ah)

(Ah-ah-ah)

(Ah-ah-ah)

Konteks di Balik Lagu invisible string dari Taylor Swift

Taylor Swift menciptakan album Folklore selama masa karantina pandemi COVID-19 pada tahun 2020, saat imajinasinya bebas berkelana tanpa batas.

Dalam premis yang ia tulis untuk album tersebut, ia menyebut salah satu gambaran yang menginspirasinya adalah tentang sebuah benang tunggal yang mengikat seseorang pada takdirnya.

Aaron Dessner dari band The National adalah produser lagu ini, yang awalnya bermula dari petikan gitar akustik yang sudah ia mainkan selama berbulan-bulan.

Saat Taylor mendengar demo tersebut, ia langsung tahu bahwa musik itu cocok dengan lirik tentang asal-usul sebuah hubungan yang sudah ia tulis sebelumnya.

Lagu ini diyakini banyak penggemar sebagai cerita tentang perjalanan Taylor menuju hubungannya dengan aktor asal Inggris, Joe Alwyn, berdasarkan sejumlah detail spesifik dalam liriknya.

Detail tentang kemeja biru di toko yogurt merujuk pada pekerjaan paruh waktu Alwyn remaja di sebuah kedai yogurt beku di London.

Baris tentang perjalanan tiga tahun ke danau merujuk pada kunjungan keduanya ke kawasan Lake District di Inggris, yang juga menjadi latar bonus track Folklore berjudul “The Lakes”.

Taylor mengungkapkan dalam film dokumenter konser Folklore: The Long Pond Studio Sessions bahwa baris tentang mengirimkan hadiah bayi untuk mantan kekasih memang terjadi di kehidupan nyata.

Lagu ini juga menyimpan referensi sastra dari novel Jane Eyre karya Charlotte Brontë dan The Sun Also Rises karya Ernest Hemingway, yang keduanya menggunakan gambaran serupa tentang benang atau ikatan yang menghubungkan dua jiwa.

Fakta Menarik tentang Lagu invisible string

Diluncurkan Tanpa Promosi Sama Sekali

Taylor Swift merilis album Folklore pada 24 Juli 2020 secara mendadak tanpa kampanye promosi sebelumnya, dan "invisible string" hadir sebagai lagu ke-11 dalam tracklist standar yang langsung mencuri perhatian pendengar.

Terinspirasi dari Mitologi Asia Kuno

Konsep benang tak kasat mata dalam lagu ini mengacu pada mitos kuno dari budaya Asia Timur tentang benang merah takdir yang mengikat dua orang yang ditakdirkan bertemu, terlepas dari waktu, tempat, dan keadaan.

Referensi Sastra Tersembunyi

Seorang profesor sastra Inggris menemukan bahwa lirik chorus lagu ini memiliki kemiripan kuat dengan kalimat ikonik dari novel Jane Eyre dan kalimat penutup dari The Sun Also Rises, menunjukkan betapa dalamnya pengaruh literatur pada penulisan lagu Taylor.

NPR Menempatkannya di Daftar Lagu Terbaik 2020

NPR memasukkan "invisible string" ke peringkat 22 dalam daftar 100 lagu terbaik tahun 2020 dan memuji kemampuan lagu ini mengubah hal kecil menjadi sesuatu yang mengubah hidup.

Bangku Peringatan di Centennial Park

Wali Kota Nashville mengeluarkan proklamasi khusus pada Mei 2023 saat Eras Tour berlangsung di kota tersebut, dan sebuah bangku dengan plakat bertuliskan "Untuk Taylor Swift" dipasang di Centennial Park yang menjadi inspirasi lagu ini.

Pengakuan Jujur di Balik Lirik

Taylor mengungkapkan bahwa baris tentang mengirim hadiah bayi untuk mantan kekasih yang pernah menyakitinya benar-benar terjadi dalam hidupnya, dan ia menuliskannya tepat setelah momen itu karena merasa hidupnya sangat baik saat itu.