Lagu ini bercerita tentang jarak yang diam-diam tumbuh antara seorang anak dan orang tuanya.
Bukan jarak karena benci, tapi jarak karena tidak tahu bagaimana caranya mulai berbicara.
Hindia menggambarkan momen canggung itu dengan jujur: ada yang ingin disampaikan, tapi kata-kata rasanya macet di tenggorokan.
Perbedaan nilai dan cara pandang membuat dua orang yang saling menyayangi justru sulit terhubung satu sama lain.
Yang membuat lagu ini istimewa adalah pilihan sang anak untuk tidak menyerah, meski situasinya menyakitkan.
Alih-alih menuntut dipahami, si anak justru memilih untuk belajar memahami.
Frasa “hingga seratus tahun lagi” bukan hiperbola semata, melainkan pernyataan bahwa cinta dan pengampunan itu tidak punya batas waktu.
Di bagian bridge, sudut pandang bergeser: sang anak mencoba melihat dunia dari mata orang tuanya yang sudah dimakan usia.
Dan di sana, bukan kemarahan yang ditemukan, melainkan kebijaksanaan.
Lagu ini berakhir bukan dengan satu pihak yang menang, tapi dengan dua orang yang sama-sama berusaha dan saling memaafkan.
Arti Lirik Lagu Setiap Waktu dari Hindia
[Verse 1]
Aku tahu kau bingung memulai percakapan
Takut salah bicara, lalu aku tersinggung
Aku tahu kau linglung, gundah mencari jalan
Cairkan suasana, diam sehening patung
Bait pertama ini langsung menempatkan kita di tengah suasana yang kikuk.
Sang anak berbicara kepada orang tuanya, dan dengan penuh empati ia mengakui bahwa orang tuanya pun tidak tahu bagaimana memulai.
Keduanya diam, tapi bukan karena tidak peduli. Justru karena terlalu peduli sampai takut salah langkah.
[Verse 2]
Kau kehabisan kata karena nilai yang berbeda
Masalah yang pernah ada antara kita berdua
Dua baris ini merangkum akar dari banyak konflik keluarga: bukan soal siapa yang salah, tapi soal dua sistem nilai yang berbeda bertabrakan.
Ada luka lama yang belum selesai, dan luka itu membuat percakapan makin berat.
[Chorus]
Pun begitu kumaafkanmu hingga seratus tahun lagi
Karena untukmu setiap waktu aku berusaha
Hatiku terbuka selebar-lebarnya
Ini adalah inti dari seluruh lagu.
Pengampunan yang ditawarkan bukan pengampunan bersyarat, tapi pengampunan yang diberikan sepenuh hati meski keadaan belum sempurna.
“Setiap waktu” menjadi mantra: tidak ada momen istirahat dari usaha untuk mencintai dan memahami orang tua.
[Verse 3]
Aku tahu terkadang kau anggapku masih kecil
Tak tahu apa-apa, pongah tentang dunia
Aku tak ingin menang walau kita berseberang
Hanya ingin kau percaya aku bisa mencerna
Di sini sang anak mengakui sesuatu yang menyakitkan: ia tahu dirinya sering diremehkan.
Tapi ia tidak membalas dengan ego. Ia hanya ingin dipercaya bahwa ia cukup dewasa untuk memahami kompleksitas hidup.
Kalimat “aku tak ingin menang” adalah bentuk kedewasaan tertinggi dalam sebuah konflik.
[Bridge]
Aku tahu tak mudah, aku berusaha
Melihat kehidupan dari pasang matamu
Yang berubah warna, termakan usia
Kutemukan kebijaksanaan di dalamnya
Berjuang untukku dalam dunia yang berubah
Bridge ini adalah momen paling emosional dalam lagu.
Sang anak benar-benar berhenti sejenak dan mencoba melihat dunia dari sudut pandang orang tuanya.
Mata yang “berubah warna, termakan usia” adalah gambaran fisik dari seseorang yang sudah melewati begitu banyak hal.
Dan alih-alih melihat kekakuan atau kekolotannya, sang anak menemukan kebijaksanaan di sana.
[Chorus Akhir]
Pun begitu kau maafkanku hingga seratus tahun lagi
Karena untukku setiap waktu engkau berusaha
Di bagian akhir, sudut pandang berbalik sepenuhnya.
Kini sang anak menyadari bahwa orang tuanya pun sebenarnya melakukan hal yang sama: berjuang, berdoa, dan memaafkan tanpa henti.
Ini adalah momen rekonsiliasi yang paling tulus dalam lagu.
[Outro]
Hatimu terbuka selebar-lebarnya
Kita berusaha
Dua baris ini mengakhiri lagu dengan sederhana tapi berat maknanya.
“Kita berusaha” bukan kalimat yang menyatakan masalah sudah selesai, tapi pernyataan bahwa dua orang ini memilih untuk terus mencoba bersama.
Konteks di Balik Lagu Setiap Waktu dari Hindia
Lagu ini lahir dari pengalaman pribadi Baskara Putra tentang hubungannya sendiri dengan sang ayah.
Ia mengakui bahwa selama bertahun-tahun, ada jarak yang besar antara dirinya dan ayahnya, terutama saat ia masih remaja.
Baskara merasa menyia-nyiakan sekitar satu dekade karena tidak menjalin komunikasi yang baik dengan orang tuanya.
Kedekatan itu baru benar-benar terbentuk ketika Baskara sudah tumbuh menjadi orang dewasa dan sang ayah mulai memandangnya secara berbeda.
Momen yang paling berkesan baginya adalah saat ia duduk berhadapan dengan ayahnya, menatap matanya secara langsung, dan memperhatikan kerutan di wajah sang ayah.
Dari situ tumbuh kesadaran mendalam tentang waktu yang sudah lewat dan perjuangan yang selama ini dilakukan orang tuanya.
Lagu ini ditulis bersama Enrico Octaviano dan diproduseri oleh Iga Massardi, kolaborator yang sudah lama dekat dengan dunia musik Baskara.
Meski lagu ini hadir dalam konteks kampanye Ramadan bersama Indosat, Baskara mengerjakan liriknya dengan kebebasan penuh, tanpa tekanan dari brand.
Ia bahkan menyebut proses penulisannya terasa seperti menggarap lagu untuk album pribadinya sendiri.
Lagu ini dirilis tepat pada 5 Maret 2024, beberapa hari menjelang Ramadan 1445 H, dan dengan cepat menyentuh banyak pendengar yang merasakan pengalaman serupa.