Makna Lagu Satu Hari Lagi - Hindia

Artis

Hindia

Album

Lagipula Hidup Akan Berakhir

Tahun

2023

Genre

Rock Alternatif / Indie Pop

Negara

Indonesia

Opini Redaksi

Lagu ini bercerita tentang seseorang yang hidup dalam kekosongan meski kebutuhan materi terpenuhi.

Uang ada, tapi arah tidak ada.

Itulah inti dari apa yang disampaikan Hindia lewat lagu ini.

Hidup terasa berjalan tanpa tujuan, dan satu-satunya target yang tersisa hanyalah bertahan untuk satu hari lagi.

Baskara tidak sedang bicara tentang kemiskinan atau kegagalan besar, tapi tentang kelesuan yang jauh lebih sunyi dari itu.

Ada rasa bersalah karena merasa tidak pantas atas semua yang sudah dimiliki, tapi di saat yang sama tidak ada semangat untuk bergerak maju.

Lagu ini juga menyentuh soal kelelahan empati, yaitu kondisi ketika seseorang tidak sanggup lagi berpura-pura peduli pada orang lain karena dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja.

Ada keberanian yang besar di sini karena Baskara secara terbuka mengakui bahwa tidak setiap hari ia bisa menjadi sosok yang kuat atau penuh perhatian.

Di bagian bridge, lagu ini berubah menjadi sesuatu yang lebih mentah: menolak dijadikan tumpuan, menolak dijadikan komoditas, dan hanya ingin kembali ke hal-hal paling dasar seperti makan kenyang dan menangis tanpa malu.

Itu bukan tanda kelemahan, tapi tanda bahwa seseorang sedang mencoba jujur pada dirinya sendiri.

Arti Lirik Lagu Satu Hari Lagi dari Hindia

[Verse 1]

Lima juta lagi untuk botol minum keras

Tiga juta kosmetik dalam game terus kukuras

Hanya segelintir uang yang terus keluar deras

Ku sekarang bernafas, tanpa tujuan jelas

Bait pertama ini langsung menggambarkan seseorang yang menghabiskan uang bukan untuk bertumbuh, tapi untuk mengisi kekosongan.

Pengeluaran yang disebut bukan untuk kebutuhan pokok, tapi untuk pelarian: minuman keras, item dalam game, hal-hal yang terasa memuaskan sesaat.

Baris terakhir jadi pukulan paling keras dari keempat baris ini: hidup cukup, tapi hidup tanpa tujuan.

[Verse 2]

Karena tak ada lagi yang kucari di sini

Mimpi menjadi besar tak menggiurkan lagi

Anganku hanya sampai sejauh tanah sendiri

Hanya ingin mengeluh, tak bisa bijak lagi

Di sini ambisi sudah mati, bukan karena gagal mencapai sesuatu, tapi karena tidak ada lagi yang terasa worth it untuk dikejar.

Mimpi besar tidak lagi menarik, dan cakrawala yang dulu tampak luas kini menyempit hanya sepanjang jarak yang bisa ditempuh sendiri.

Kalimat terakhirnya sangat manusiawi: kadang orang memang hanya butuh mengeluh, tanpa harus langsung bijak atau mencari solusi.

[Pre-Chorus]

Jujur, aku sangat beruntung

Selalu hidup cukup, tak bisa lagi ku bernyanyi seakan ku

Mengerti dirimu, hidupmu, lukamu, sakitmu

Mulai sekarang, coba kau tanggung itu sendiri

Kadang ku merasa terlalu malas untuk berkarya

Kurang pantas diriku bergelimang harta

Sekali saja ku bicarakan tentang mentalmu kawan

Tak setiap hari ku bisa peduli itu, oh kawan

Bagian ini adalah salah satu momen paling jujur dalam lagu ini.

Baskara mengakui secara langsung bahwa ia tahu dirinya beruntung, dan justru karena itu ia tidak bisa lagi berpura-pura memahami penderitaan orang lain sepenuhnya.

Ada kelelahan empati yang nyata di sini, yaitu kondisi ketika seseorang tidak punya kapasitas lagi untuk terus-menerus menjadi pendengar atau penopang bagi orang lain.

Kalimat tentang merasa malas berkarya dan kurang pantas atas apa yang dimiliki menunjukkan konflik batin antara rasa syukur dan rasa tidak layak yang berjalan bersamaan.

[Chorus]

Tinggalkan aku di sini

Ku hanya mampu menyambung hidup hari per hari

Biarkan aku di sini

Hanya bisa berpikir ‘tuk satu hari lagi

Chorus ini bukan permintaan untuk ditinggalkan selamanya, tapi permohonan untuk diberi ruang.

Tidak ada energi untuk merencanakan masa depan yang jauh, yang ada hanyalah kemampuan untuk bertahan sampai besok.

Ini adalah gambaran dari kondisi yang banyak orang alami tapi jarang berani diungkapkan: hidup hari per hari bukan karena pilihan, tapi karena itu satu-satunya yang masih bisa dilakukan.

[Bridge]

Aku hanya ingin muntah sekali lagi

Ingin makan kenyang sekali lagi

Jangan anggap aku tulang punggungmu

Sekali ku berhenti, tamat hidupmu

Jangan beri aku target dagangmu

Aku bukan komoditas milikmu (bukan milikmu)

Bridge pertama ini adalah ledakan.

Dua baris pertama menggambarkan kebutuhan yang paling mendasar sekalipun terasa tidak terpenuhi secara emosional: ingin merasa lega, ingin merasa kenyang dan puas.

Empat baris berikutnya adalah penolakan tegas terhadap tekanan dari luar, terhadap siapa pun yang menjadikan seseorang sebagai sandaran utama atau sebagai alat untuk mencapai target.

Ini bisa dibaca sebagai suara seseorang yang kelelahan karena terlalu lama menjadi penopang bagi orang lain, dan akhirnya memilih untuk menyatakan batasnya.

[Bridge – Outro]

Aku hanya ingin muntah sekali lagi

Ingin makan kenyang sekali lagi

Ingin menamatkan satu series lagi

Dan menangis keras sekali lagi

Dan menangis keras sekali lagi

Dan menangis keras sekali lagi

Di bridge kedua dan outro, suasana berubah menjadi lebih rapuh dan lebih manusiawi.

Keinginan yang disebutkan sangat sederhana: menamatkan satu series, makan kenyang, dan menangis keras.

Pengulangan kalimat terakhir terasa seperti seseorang yang sudah tidak punya kata-kata lain selain membiarkan dirinya larut dalam rasa itu.

Ini bukan akhir yang dramatis, tapi akhir yang sangat jujur dan dalam kesederhanaan itulah lagu ini menemukan kekuatannya.

Konteks di Balik Lagu Satu Hari Lagi dari Hindia

Lagu ini adalah bagian dari album kedua Hindia yang bertajuk Lagipula Hidup Akan Berakhir, yang dirilis pada 7 Juli 2023.

Album ini dikerjakan selama kurang lebih dua tahun, dimulai saat masa pandemi Covid-19 ketika Baskara tinggal bersama beberapa temannya dan mulai menulis lagu secara intens.

Dalam sebuah konferensi pers peluncuran album, Baskara menyebut bahwa 14 lagu di bagian pertama album ini adalah respons jujurnya saat menyadari bahwa persoalan dalam hidupnya belum selesai, dan Satu Hari Lagi termasuk dalam kelompok lagu-lagu itu.

Album ini secara tematik membahas empat isu besar yang membuatnya resah: teknologi, inflasi, oligarki, dan krisis iklim, namun di level personal, setiap lagu terasa seperti percakapan Baskara dengan dirinya sendiri.

Satu Hari Lagi secara khusus menggambarkan kondisi hampa yang terjadi ketika seseorang sudah cukup secara materi tapi kehilangan arah, sebuah pengalaman yang banyak dirasakan generasi muda di tengah tekanan produktivitas dan ekspektasi sosial yang tinggi.

Baskara juga dikenal terbuka soal pengalamannya dengan anxiety, dan kondisi mental itu turut mewarnai warna lirik-lirik di album ini.

Hindia adalah proyek yang paling personal bagi Baskara, karena di sinilah ia bisa berbicara tentang hal-hal yang tidak bisa disuarakan lewat proyek musiknya yang lain seperti .Feast.

Fakta Menarik tentang Lagu Satu Hari Lagi

Satu Hari Lagi Masuk Track ke-4 Album yang Ambisius

Lagu ini menempati posisi keempat dalam urutan Bagian I album Lagipula Hidup Akan Berakhir, sebuah album dengan total 28 lagu yang digarap selama lebih dari dua tahun dan dirilis dalam dua tahap terpisah pada Juli 2023.

Dikaji Secara Akademis dengan Pendekatan Psikoanalisis

Sebuah jurnal akademik dari Jurnal Onoma menjadikan Satu Hari Lagi sebagai objek kajian psikoanalisis Sigmund Freud, menemukan bahwa liriknya merepresentasikan konflik antara Id, Ego, dan Superego yang sangat relevan dengan pengalaman psikologis generasi muda.

Lagu yang Menyentuh Lebih dari 4,7 Juta Pendengar di Spotify

Meski berbicara tentang kelesuan dan kekosongan, lagu ini berhasil meraih lebih dari 4,7 juta pemutaran di Spotify dan menjadi salah satu lagu paling dikenal dari album kedua Hindia.

Hindia Adalah Proyek Paling Personal Baskara

Berbeda dari .Feast yang berkarakter penuh kemarahan kolektif, Hindia adalah ruang di mana Baskara bisa bicara tentang hal-hal yang sangat personal, dan nama Hindia sendiri dipilih sejak ia sekolah, terinspirasi dari tulisan "Hindia Belanda" yang ia lihat di bawah sebuah lukisan saat kunjungan lapangan.

Album Ini Lahir dari Keresahan yang Belum Selesai

Baskara mengaku bahwa ia sebenarnya tidak berencana membuat album kedua, tapi menyadari bahwa persoalan yang ia rasakan di album pertama belum tuntas sehingga ia merasa harus kembali berkarya untuk menyelesaikan apa yang ia rasakan.