“Ibel” adalah lagu Hindia yang lahir dari kehilangan nyata, bukan sekadar metafora tentang kesedihan.
Lagu ini ditulis sebagai bentuk penghormatan kepada tukang cukur langganan keluarga Baskara Putra yang meninggal dunia di tengah pandemi COVID-19.
Nama “Ibel” merujuk langsung pada sosok tersebut, dan seluruh lagu dibangun di atas rasa bersalah yang mendalam karena tidak sempat berbuat lebih banyak sebelum kepergiannya.
Di verse pertama, Baskara menggambarkan dirinya sedang duduk tenang di dalam kamar sementara sirene ambulans terus bersahutan di luar.
Pertanyaan “siapa lagi yang tak beruntung hari ini?” bukan hanya refleksi, tapi juga gambaran bagaimana pandemi membuat orang terbiasa mendengar kabar duka setiap hari.
Ada jarak yang menyakitkan antara ketenangan di dalam ruangan dengan kematian yang terus terjadi di luar sana.
Verse kedua mempertegas kontras itu, dimana Baskara tetap menulis lagu, sekolah kembali dibuka, dan kehidupan seolah berjalan normal, sementara rasa bersalahnya tidak ikut hilang.
Bagian pre-chorus menjadi titik paling jujur dalam lagu ini karena Baskara mengakui hidupnya terus berlanjut dan teman-temannya masih bisa tertawa dan bersenang-senang di bar, sementara ia terjebak dalam perasaan yang tidak bisa ia lepaskan.
Di chorus, Baskara tidak menyalahkan satu pihak saja karena ia menggunakan kata “kami”, seolah seluruh masyarakat turut bertanggung jawab atas kelambanan dan ketidaktegasan saat pandemi merenggut begitu banyak nyawa.
Outro lagu ini adalah momen paling lembut sekaligus paling menyentuh, di mana Baskara membayangkan Ibel sedang menata rambut semua orang di surga, sebuah cara yang sangat sederhana namun sangat tulus untuk mengenang seseorang yang ia hormati.
Arti Lirik Lagu Ibel dari Hindia
[Verse 1]
Aku duduk manis di kamar
Sirene berkejaran di luar
Siapa lagi yang tak beruntung hari ini?
Masih muda atau kena komplikasi?
Baskara membuka lagu dengan gambaran yang sangat familiar bagi siapa pun yang melewati masa pandemi.
Kata “duduk manis” terasa ironis karena di luar sana banyak yang tidak bisa semudah itu.
Pertanyaan di baris ketiga dan keempat menunjukkan betapa kabar duka sudah menjadi hal yang hampir biasa di telinga saat itu.
[Verse 2]
Aku duduk manis menulis
Lagu ini menunggu rilis
Sekolah dibuka lagi, murid berbaris
Rasa bersalahku tak kunjung habis
Kehidupan di sekitar Baskara pelan-pelan kembali normal, tapi perasaan bersalahnya tidak ikut pulih.
Kata “lagu ini menunggu rilis” menjadi momen yang menarik karena terasa seperti Baskara sedang berbicara langsung tentang lagu “Ibel” itu sendiri.
Sekolah yang kembali dibuka menjadi simbol bahwa dunia sudah melanjutkan langkah, tapi ada yang tertinggal dan tidak bisa kembali.
[Pre-Chorus]
Hidupku berlanjut
Dan malam ini teman-temanku tertawa
Termabuk di bar
Tiga baris ini adalah inti dari seluruh konflik emosional dalam lagu.
Baskara tidak marah pada teman-temannya, tapi ada perasaan terasing yang tidak bisa ia jelaskan.
Hidupnya terus berjalan ke depan, tapi pikirannya tertinggal bersama orang yang sudah pergi.
[Chorus]
Atas semua kesalahan kami
Kurang cepat buka suara
Atas semua kesalahan kami
Tak disiplin menutup mulut
Aku minta maaf
Aku minta maaf
Aku takut kau hilang ditelan waktu
Penggunaan kata “kami” di sini sangat penting karena Baskara tidak menjadikan dirinya satu-satunya yang bersalah.
Ada kritik kolektif di baliknya, yaitu tentang masyarakat yang terlambat bersuara dan tidak disiplin menjalankan protokol selama pandemi.
Baris terakhir adalah yang paling berat karena ketakutan terbesar Baskara bukan hanya kehilangan orang itu, tapi kehilangan ingatannya.
[Outro]
Berharap kau bahagia di atas sana
Kau tata rambut semuanya di surga
Sekarang kau tata rambut semuanya di surga
Outro ini adalah penutup yang sangat personal dan hangat.
Baskara membayangkan Ibel masih melakukan hal yang ia sukai di alam lain, yaitu menata rambut, tapi kali ini untuk semua orang di surga.
Ada kesedihan di sana, tapi juga ada keikhlasan yang tulus dari seseorang yang benar-benar menghormati sosok yang ia kenang.
Konteks di Balik Lagu Ibel dari Hindia
“Ibel” dirilis pada 7 Juli 2023 sebagai bagian dari album kedua Hindia berjudul “Lagipula Hidup Akan Berakhir” yang diedarkan melalui label rekaman Sun Eater.
Lagu ini terinspirasi dari kisah nyata tukang cukur langganan keluarga Baskara yang meninggal dunia saat pandemi COVID-19 berlangsung.
Pandemi menjadi latar belakang besar album ini, di mana Baskara menyaksikan banyak kehilangan yang terasa mustahil untuk diproses dalam waktu singkat.
Baskara mengakui bahwa album kedua ini lahir dari keresahan yang belum selesai sejak album pertamanya, “Menari dengan Bayangan”, yang dirilis pada 2019.
“Lagipula Hidup Akan Berakhir” terdiri dari 28 lagu yang dibagi menjadi dua bagian, dan bagian pertama tempat “Ibel” berada cenderung lebih gelap karena berisi reaksi spontan Baskara terhadap berbagai kehilangan dan keputusasaan.
Dalam album ini, Baskara dibantu oleh produser Enrico Octaviano dan Kareem Soenharjo yang ikut membentuk warna musik rock alternatif dalam lagu “Ibel”.
Baskara menyebut album ini sebagai pencapaian hidup yang tidak mungkin ia ulangi lagi karena memproduksi 28 lagu sekaligus adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam industri musik Indonesia.