Lagu ini bercerita tentang seseorang yang jatuh cinta secara tiba-tiba dan intens kepada sosok bernama Alexandra.
Alexandra digambarkan sebagai sosok yang berbahaya, penuh pesona, dan terasa tidak mungkin untuk diraih.
Meski tahu sejak awal bahwa cinta ini akan bermasalah, sang tokoh tetap memilih untuk jatuh lebih dalam.
Perasaan itu digambarkan sangat besar sampai sang tokoh rela menunggu dalam waktu yang mustahil, yaitu 500 juta jam, hanya demi orang yang dicintainya.
Angka 500 juta jam bukan hitungan nyata, melainkan cara penulis lagu menunjukkan betapa tidak masuk akalnya cinta yang ia rasakan.
Ada kesadaran yang muncul di tengah kekaguman itu: hubungan ini mungkin akan berakhir sebelum sempat dimulai.
Baris “even though we’d break our hearts before we’d even start” menjadi bagian paling jujur dari seluruh lagu ini.
Sang tokoh tidak menyangkal kenyataan, ia justru menerima kemungkinan sakit itu dengan tangan terbuka.
Di mata sang tokoh, Alexandra bukan sekadar seseorang yang ia sukai, Alexandra adalah dewi dan bintang rock dalam hidupnya.
Itulah yang membuat lagu ini terasa berbeda: cinta yang sadar akan risikonya, tapi tetap memilih untuk nekat.
Terjemahan Lirik Lagu Alexandra dari Reality Club
[Verse 1]
Just like a certain motorbike gang from Charming
Seperti geng motor tertentu dari Charming
Or you’re looking for the old ultraviolence
Atau seperti kamu sedang mencari kekerasan lama itu
You’re trouble, yes I knew
Kamu adalah masalah, ya aku sudah tahu
Right from the start
Sejak awal
[Verse 2]
And the labyrinth I thought I knew
Dan labirin yang kurasa sudah aku pahami
Rearranged to shape anew
Tersusun ulang menjadi bentuk yang baru
At amazement of the excitement
Dengan kekaguman akan kegembiraan itu
That once rang true
Yang dulu terasa benar
[Chorus]
And if I was a fool for you
Dan jika aku menjadi orang bodoh karenamu
I’d wait 500 million hours
Aku akan menunggu 500 juta jam
On a park bench out on the moon
Di bangku taman di atas bulan
But in full view of what you are
Tapi dengan sepenuhnya melihat siapa dirimu
Oh
Oh
[Verse 3]
Just like a feline with multiple lines
Seperti kucing dengan banyak garis
She lost a couple but she used to have five
Dia kehilangan beberapa, tapi dulunya punya lima
A savior of mankind
Penyelamat umat manusia
[Chorus]
And if I was a fool for you
Dan jika aku menjadi orang bodoh karenamu
I’d wait 500 million hours
Aku akan menunggu 500 juta jam
On a park bench out on the moon
Di bangku taman di atas bulan
But in full view of what you are
Tapi dengan sepenuhnya melihat siapa dirimu
You’re a goddess, you’re my rock star
Kamu adalah dewi, kamu adalah bintang rock-ku
[Bridge]
I fell in love with Alexandra
Aku jatuh cinta pada Alexandra
Even though I barely met her
Meskipun aku hampir tidak pernah bertemu dengannya
Even though we’d break our hearts
Meskipun kita akan menghancurkan hati kita sendiri
Before we’d even start
Bahkan sebelum kita sempat memulai
(Before we’d even start)
(Bahkan sebelum kita sempat memulai)
[Outro]
And if I was a fool for you
Dan jika aku menjadi orang bodoh karenamu
I’d wait 500 million hours
Aku akan menunggu 500 juta jam
On a park bench out on the moon
Di bangku taman di atas bulan
But in full view of what you are
Tapi dengan sepenuhnya melihat siapa dirimu
You’re a goddess, you’re my rock star
Kamu adalah dewi, kamu adalah bintang rock-ku
Konteks di Balik Lagu Alexandra dari Reality Club
Lagu Alexandra ditulis oleh Faiz Novascotia Saripudin, vokalis dan penulis utama Reality Club.
Lagu ini dirilis pada 2019 sebagai bagian dari album kedua Reality Club, What Do You Really Know?, yang membawa nuansa lebih melankolis dibanding album perdana mereka.
Faiz pernah mengungkapkan bahwa Alexandra terinspirasi dari perasaan nyata yang ia alami terhadap seseorang di kehidupannya sendiri.
Menurutnya, lagu ini sangat personal sekaligus sangat spesifik, sampai ia sempat ragu apakah ada orang lain yang bisa merasakan hal yang sama.
Ternyata, justru kekhususan itulah yang membuat banyak pendengar merasa lagu ini seolah bercerita tentang kisah mereka sendiri.
Referensi pop culture dalam lirik seperti geng motor dari Charming dan “ultraviolence” sengaja dipilih Faiz untuk menggambarkan sosok yang terasa berbahaya namun tetap memikat.
Charming merujuk pada kota fiktif dalam serial TV Sons of Anarchy, sedangkan “ultraviolence” adalah istilah yang dipopulerkan oleh novel A Clockwork Orange karya Anthony Burgess.
Reality Club kala itu sedang dalam masa eksplorasi musikal yang lebih luas, dan Alexandra menjadi salah satu lagu yang paling berbeda dari karya mereka sebelumnya.
Lagu ini kemudian menjadi salah satu andalan Reality Club saat tampil di Singapura dan Malaysia dalam rangkaian tur internasional pertama mereka pada 2019.