Lagu ini lahir dari kegelisahan Baskara Putra atas satu celah yang selama ini luput dari perhatian dunia musik Indonesia.
Belum pernah ada lagu lebaran yang disuarakan dari sudut pandang orang yang tidak mudik dan tidak merayakan Idulfitri.
Maka Hindia mengisi kekosongan itu dengan cara yang sangat jujur dan tidak basa-basi.
Di permukaan, lagu ini bercerita tentang menikmati Jakarta yang lengang saat semua orang pulang kampung.
Tapi di lapisan yang lebih dalam, ada pesan yang jauh lebih berat dari sekadar suasana kota sepi.
Baskara menyinggung polarisasi yang sudah terlalu lama merobek kebersamaan masyarakat Indonesia.
Kalimat “tinggalkan pilihanmu di sana” bukan ajakan melupakan nilai atau keyakinan, tapi ajakan untuk tidak membawa perpecahan ke meja makan keluarga.
Lagu ini juga menyentuh realita orang-orang yang tidak pulang bukan karena tidak mau, tapi karena memang tidak punya kampung untuk dituju atau merayakan hari raya yang berbeda.
Hindia tidak menghakimi satu pun dari mereka karena ini justru menjadi kekuatan terbesar lagu ini.
Pesan akhirnya sederhana: jadilah manusia yang waras dan mawas, yang bisa melihat kota dan sesama dengan jernih tanpa dipisahkan oleh pilihan politik atau perbedaan keyakinan.
Arti Lirik Lagu Tinggalkan di Sana dari Hindia
[Verse 1]
Menikmati Cipete yang sepi
Walau minim yang dapat dikunjungi
Tak hilang indahnya Senopati
Tanpa hiruk-pikuk muda-mudi
Karena masuk di notification
Langsung diklik dalam milisekon
Mumpung kredit belum kena plafon
Hari raya bukan tentang diskon
Baskara membuka lagu dengan gambaran dua kawasan di Jakarta Selatan yang biasanya ramai: Cipete dan Senopati.
Ketika semua orang mudik, kedua tempat itu justru berubah menjadi sesuatu yang lain tapi tetap punya keindahannya sendiri.
Ada ironi kecil di baris berikutnya karena Baskara menyindir kecenderungan orang yang lebih cepat merespons notifikasi diskon promo lebaran daripada merenungi makna hari rayanya.
Hari raya bukan tentang promo atau belanja, tapi banyak yang sudah lupa itu.
[Verse 2]
Semua orang pulang ke rumah
Meninggalkan raksasa di kota
Dan warna langit mulai berubah
Jadi lebih biru dan ceria
Tersisa segelintir pejuang
Kali ini kami belum pulang
Mungkin karena sudah tak berkampung
Atau beda Tuhan dan pelindung
“Raksasa di kota” adalah gambaran Jakarta yang biasanya brutal dan padat, tapi tiba-tiba berubah wajah ketika ditinggal penghuninya.
Langit lebih biru bukan hanya karena polusi berkurang, tapi juga karena ada ketenangan yang jarang bisa dirasakan di kota ini.
Baskara kemudian menyuarakan suara kelompok yang sering terlupakan: mereka yang tidak pulang karena sudah tidak punya kampung halaman, atau karena merayakan hari raya yang berbeda dengan mayoritas.
Kalimat “beda Tuhan dan pelindung” diucapkan bukan dengan nada pahit, tapi dengan ketulusan yang mengajak pendengar untuk melihat bahwa keberagaman itu nyata dan ada di sekitar kita.
[Pre-Chorus]
Meleburlah dengan keluarga
Basa-basi yang basi, biasa
Tahan-tahan lawan pertanyaan
Yang tak seharusnya ditanyakan
Bagian ini terasa sangat dekat dengan pengalaman siapa pun yang pernah pulang kampung.
Ada keharusan untuk melebur, untuk tersenyum, untuk menanggung pertanyaan-pertanyaan tidak nyaman soal kapan nikah, kapan punya anak, atau berapa penghasilanmu sekarang.
Hindia tidak meminta pendengar untuk marah atau kabur dari situasi itu, tapi untuk menahannya karena sesekali momen kebersamaan lebih berharga dari argumen.
[Chorus]
Tinggalkan pilihanmu di sana
Kembali menjadi manusia
Yang waras menanggapi berita
Tak dipecah yang di atas sana
Tinggalkan pilihanmu di sana
Kembali menjadi manusia
Yang mawas melihat isi kota
Dengan orang yang banyak ragamnya
Ini puncak dari seluruh pesan lagu.
“Pilihanmu” di sini merujuk pada pilihan politik, afiliasi, dan identitas kelompok yang selama bertahun-tahun dipakai sebagai alat untuk memecah belah masyarakat.
“Yang di atas sana” adalah sindiran halus untuk para elite politik dan penguasa yang justru diuntungkan ketika rakyat terus saling bermusuhan.
Kembali menjadi manusia bukan berarti melupakan siapa dirimu, tapi berarti tidak membiarkan polarisasi menghancurkan hubunganmu dengan sesama.
Konteks di Balik Lagu Tinggalkan di Sana dari Hindia
Lagu ini dirilis pada 4 Juni 2019, tepat beberapa hari setelah Idulfitri 1440 H, di bawah label Sun Eater.
Waktu rilisnya sangat disengaja karena Baskara ingin lagu ini bisa didengar dan dirasakan langsung di momen lebaran.
Lagu ini merupakan kolaborasi dengan Natasha Udu, penyanyi yang juga bernaung di bawah Sun Eater, serta Dikisahkan.
Inspirasi utamanya muncul dari pemikiran Baskara yang merasa belum pernah ada lagu lebaran dari sudut pandang orang yang tidak mudik dan tidak merayakan Idulfitri.
Tahun 2019 juga merupakan tahun yang sangat kental dengan polarisasi politik di Indonesia, tepat setelah Pemilihan Presiden yang membelah masyarakat menjadi dua kubu yang saling berhadapan.
Konteks sosial itu menjadi latar belakang yang sangat kuat untuk pesan utama lagu ini: tinggalkan dulu pilihan politikmu dan kembali lihat satu sama lain sebagai sesama manusia.
Baskara juga menyertakan foto karya istrinya, Meidiana Tahir, sebagai materi visual dalam video lirik lagu ini.
Lagu ini akhirnya menjadi jauh lebih relevan lagi saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020, ketika banyak orang terpaksa tidak bisa mudik dan mendengarkan lagu ini sebagai penghiburan.
Respon pendengar luar biasa karena banyak yang merasa lagu ini seperti surat yang ditulis khusus untuk mereka yang jauh dari keluarga.