“Perkara Tubuh” adalah lagu yang lahir dari keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri.
Hindia, nama panggung Baskara Putra, menulis lagu ini sebagai pengakuan terbuka atas ketidaknyamanan yang ia rasakan terhadap tubuh dan dirinya sendiri.
Lagu ini bukan soal keluhan semata, melainkan sebuah cara untuk mengakui bahwa rasa tidak percaya diri itu nyata dan berat untuk ditanggung sendirian.
Dari bait pertama, pendengar langsung diajak masuk ke dalam rutinitas kecil yang terasa menyiksa, yaitu dua jam berganti baju hanya karena tidak nyaman dengan penampilan sendiri.
Detail seperti itu bukan sekadar ilustrasi, melainkan gambaran nyata dari bagaimana ketidaknyamanan terhadap citra tubuh bisa mengganggu kehidupan sehari-hari.
Chorus lagu ini menjadi titik paling jujur, di mana Hindia mengakui bahwa bukan hanya fisiknya yang terasa salah, tapi juga batin dan hatinya.
Ada satu baris yang terasa sangat menyayat: “hanya mulia dalam doa ibuku”, seolah satu-satunya tempat di mana ia merasa berharga adalah di mata sang ibu.
Outro lagu ini membawa kedalaman yang berbeda karena menyentuh wilayah yang jauh lebih gelap, yaitu pikiran yang menghancurkan dari dalam dan keinginan untuk menyerah.
Namun justru di titik paling berat itu, Hindia menutupnya dengan kalimat yang menjadi inti pesan lagu ini: “kau juga kabari jika begitu.”
Kalimat penutup itu adalah undangan, bukan sekadar ungkapan, sebuah pengingat bahwa siapa pun yang merasakan hal serupa tidak harus menanggungnya sendiri.
Arti Lirik Lagu Perkara Tubuh dari Hindia
[Verse 1]
Aku tak nyaman dengan tubuhku, habiskan dua jam berganti baju
Aku tak nyaman dengan kepalaku, habis seumur hidup ditopang dagu
Aku tak nyaman dengan mataku, tak terlihat hidup di bawah lampu
Aku tak nyaman dengan rambutku, dengan tipe potongan apa pun itu
Verse pertama menggambarkan ketidaknyamanan yang sangat spesifik terhadap bagian-bagian tubuh.
Menghabiskan dua jam hanya untuk berganti baju adalah gambaran nyata dari bagaimana kecemasan terhadap penampilan bisa menyita waktu dan energi.
Setiap baris menyebut anggota tubuh yang berbeda, seolah tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang terasa benar.
[Chorus]
Aku tak nyaman dengan diriku, serta semua dari lahir begitu
Aku tak nyaman dengan diriku, banyak yang jelas salah dalam hatiku
Aku tak nyaman dengan diriku, hangus di dalam batin aku membiru
Aku tak nyaman dengan diriku, hanya mulia dalam doa ibuku
Chorus ini menggeser fokus dari fisik ke sesuatu yang lebih dalam, yaitu perasaan salah yang dirasakan dari dalam diri.
Frasa “hangus di dalam batin aku membiru” menggambarkan kondisi emosional yang sudah sangat melelahkan dan terasa padam.
Satu-satunya tempat di mana ia merasa punya nilai adalah dalam doa ibunya, sebuah pengakuan yang sederhana namun sangat menyentuh.
[Verse 2]
Aku tak nyaman dengan mulutku, sulit diajak sopan saat berguru
Aku tak nyaman dengan perutku, tahan nafas terus sampai membeku
Aku tak nyaman dengan jariku, menguning dengan jelas menghisap abu
Aku tak nyaman dengan pundakku, dua nomor di atas ukuran baju
Verse kedua semakin detail dan semakin personal.
“Tahan nafas terus sampai membeku” adalah gambaran seseorang yang terus-menerus mencoba menyembunyikan bagian tubuhnya yang dianggap kurang sempurna.
Jari yang menguning karena rokok dan pundak yang terlalu besar untuk ukuran baju standar adalah detail nyata yang membuat lagu ini terasa sangat manusiawi.
[Outro]
Aku tak nyaman dengan batinku, terlalu sering ingin menutup buku
Aku tak nyaman dengan batinku, perlahan menghancurkan dalam diriku
Aku tak nyaman dengan batinku, percobaan bunuh diri di dalam saku
Aku tak nyaman dengan batinku, kau juga kabari jika begitu
Outro ini adalah bagian paling berat dari seluruh lagu.
Hindia membawa pendengar ke titik yang paling gelap, yaitu pikiran untuk mengakhiri semuanya, yang ia gambarkan dengan “percobaan bunuh diri di dalam saku.”
Namun justru di sini lagu ini berubah arah sepenuhnya karena baris terakhir adalah ajakan untuk saling memberi tahu jika kita merasakan hal yang sama.
Pesan itu bukan solusi yang mudah, tapi sebuah pengakuan bahwa kita tidak harus sendirian dalam kegelapan ini.
Konteks di Balik Lagu Perkara Tubuh dari Hindia
“Perkara Tubuh” adalah single ketiga dari album kedua Hindia yang berjudul Lagipula Hidup akan Berakhir, dirilis pada 18 Mei 2023.
Lagu ini ditulis bersama Kareem Soenharjo, yang juga bertindak sebagai produser dengan menghadirkan beat minimalis yang membuat lirik Hindia terasa sangat intim.
Berbeda dari dua single sebelumnya yang diproduseri Enrico Octaviano, proses pembuatan “Perkara Tubuh” dimulai dari materi musik yang sudah ada di arsip Kareem.
Hindia sendiri mengungkapkan bahwa proses menemukan sudut pandang yang tepat untuk topik ini membutuhkan waktu lebih dari satu tahun setelah musiknya selesai dibuat.
Ia menyebut memiliki kepercayaan diri adalah hal yang sangat sulit, dan menulis lagu ini justru membuat ia semakin sadar akan ketidaknyamanan tersebut dalam dirinya sendiri.
Lagu ini menjadi salah satu yang paling berbeda dalam diskografi Hindia karena beat-nya yang sangat sederhana membuat setiap kata terdengar seperti bisikan langsung ke telinga pendengar.
Hindia menyatakan bahwa “Perkara Tubuh” adalah contoh paling jelas dari perbedaan album pertama dan album keduanya dalam cara merespons sebuah perasaan.
Album Lagipula Hidup akan Berakhir sendiri merupakan proyek besar yang memuat 28 lagu dan dirilis dalam dua bagian, menjadikannya salah satu album paling ambisius dalam sejarah musik indie Indonesia.