Lagu ini adalah seruan pelarian dari dunia yang terasa terlalu berisik dan kejam.
Taylor Swift menulis lagu ini sebagai ungkapan kelelahan yang mendalam terhadap sorotan publik yang tanpa henti.
Ia merasa tidak cocok dengan dunia yang penuh kemunafikan dan orang-orang yang hanya ingin menghancurkan namanya.
Para pemburu dengan ponsel di tangan adalah gambaran nyata tentang paparazzi dan siapa pun yang mengintai kehidupan pribadinya.
Ia menyebut dirinya sebagai penulis elegi, yaitu puisi untuk yang sudah tiada, karena selama ini ia dikenal lewat lagu-lagu tentang hubungan yang berakhir.
Tempat yang ia impikan adalah Lake District di Inggris, wilayah yang pernah menjadi tempat tinggal para penyair besar seperti William Wordsworth dan Samuel Taylor Coleridge.
Para penyair itu pun melarikan diri ke sana karena mereka tidak tahan dengan dunia di sekitar mereka, persis seperti yang Taylor rasakan.
Ia tidak ingin pergi sendirian karena ada seseorang yang ia sebut sebagai “muse”, sosok yang menginspirasinya sekaligus menjadi alasan ia masih bertahan.
Jembatan lagu ini adalah bagian paling puitis karena ia membayangkan aurora, bunga wisteria, dan kolam tebing sebagai simbol kedamaian yang selama ini ia rindukan.
Lagu ini bukan sekadar tentang tempat fisik, tapi tentang keberanian untuk melindungi diri sendiri dari hal-hal yang perlahan-lahan merusakmu dari dalam.
Terjemahan Lirik Lagu The Lakes dari Taylor Swift
[Verse 1]
Is it romantic how all my elegies eulogize me?
Apakah ini romantis, bagaimana semua elegi-ku memujiaku?
I’m not cut out for all these cynical clones
Aku tidak diciptakan untuk semua klon-klon sinis ini
These hunters with cell phones
Para pemburu dengan ponsel di tangan
[Chorus]
Take me to the Lakes, where all the poets went to die
Bawa aku ke Danau-danau, tempat semua penyair pergi untuk mati
I don’t belong and, my beloved, neither do you
Aku tidak cocok di sini, dan kekasihku, kamu pun begitu
Those Windermere peaks look like a perfect place to cry
Puncak-puncak Windermere itu terlihat seperti tempat yang sempurna untuk menangis
I’m setting off, but not without my muse
Aku akan berangkat, tapi tidak tanpa musaku
[Verse 2]
What should be over, burrowed under my skin
Apa yang seharusnya sudah berakhir, malah bersarang di bawah kulitku
In heart-stopping waves of hurt
Dalam gelombang rasa sakit yang menghentikan jantung
I’ve come too far to watch some namedropping sleaze
Aku sudah terlalu jauh untuk menyaksikan orang licik yang suka menyebut nama orang lain
Tell me what are my words worth
Katakan padaku, apa nilai dari kata-kataku
[Chorus]
Take me to the Lakes, where all the poets went to die
Bawa aku ke Danau-danau, tempat semua penyair pergi untuk mati
I don’t belong and, my beloved, neither do you
Aku tidak cocok di sini, dan kekasihku, kamu pun begitu
Those Windermere peaks look like a perfect place to cry
Puncak-puncak Windermere itu terlihat seperti tempat yang sempurna untuk menangis
I’m setting off, but not without my muse
Aku akan berangkat, tapi tidak tanpa musaku
[Bridge]
I want auroras and sad prose
Aku ingin aurora dan prosa yang sedih
I want to watch wisteria grow right over my bare feet
Aku ingin menyaksikan wisteria tumbuh tepat di atas kakiku yang telanjang
‘Cause I haven’t moved in years
Karena aku sudah tidak bergerak selama bertahun-tahun
And I want you right here
Dan aku inginmu tepat di sini
A red rose grew up out of ice frozen ground
Sekuntum mawar merah tumbuh dari tanah yang membeku seperti es
With no one around to tweet it
Tanpa ada seorang pun di sekitar untuk men-tweet-nya
While I bathe in cliffside pools
Sementara aku mandi di kolam tepi tebing
With my calamitous love and insurmountable grief
Dengan cintaku yang penuh bencana dan kesedihan yang tak tertahankan
[Chorus]
Take me to the Lakes, where all the poets went to die
Bawa aku ke Danau-danau, tempat semua penyair pergi untuk mati
I don’t belong and, my beloved, neither do you
Aku tidak cocok di sini, dan kekasihku, kamu pun begitu
Those Windermere peaks look like a perfect place to cry
Puncak-puncak Windermere itu terlihat seperti tempat yang sempurna untuk menangis
I’m setting off, but not without my muse
Aku akan berangkat, tapi tidak tanpa musaku
No, not without you
Tidak, tidak tanpa kamu
Konteks di Balik Lagu The Lakes dari Taylor Swift
Taylor Swift mulai menggarap album Folklore selama masa karantina pandemi COVID-19 di awal tahun 2020.
Ia dan produser Jack Antonoff berkolaborasi sepenuhnya jarak jauh dengan saling bertukar file digital karena tidak bisa bertemu langsung.
Inspirasi lagu ini datang dari perjalanan nyata yang pernah Taylor lakukan bersama kekasihnya saat itu, Joe Alwyn, ke kawasan Lake District di Inggris.
Taylor pernah mengunjungi makam William Wordsworth di sana dan duduk diam di sisinya, merenungkan betapa sang penyair memilih untuk tetap berkarya tanpa tunduk pada hal-hal yang menghancurkannya.
Dari momen itu, Taylor menyadari bahwa inilah yang juga ingin ia lakukan lewat Folklore, yaitu melarikan diri ke danau dalam benaknya meski secara fisik ia tidak bisa ke mana-mana karena pandemi.
Frasa “namedropping sleaze” dalam lirik banyak ditafsirkan sebagai sindiran terhadap konflik publik Taylor dengan Scooter Braun dan Kanye West yang sudah berlangsung lama.
Lagu ini juga disebut Taylor sebagai “lagu penutup yang sesungguhnya” dari Folklore, karena menurut dia lagu ini merangkum tema besar album tentang pelarian dan melindungi kedamaian diri.