Lagu “Epiphany” bukan sekadar lagu biasa dari Taylor Swift.
Ini adalah penghormatan mendalam untuk dua kelompok manusia yang menghadapi trauma paling berat dalam diam.
Taylor menggabungkan dua dunia yang berbeda waktu tapi sama beratnya: medan perang Perang Dunia II dan bangsal rumah sakit di masa pandemi COVID-19.
Lagu ini lahir dari rasa ingin tahu Taylor tentang kakeknya sendiri yang tidak pernah menceritakan apa yang ia alami saat berperang.
Diam itu yang justru menjadi inti dari seluruh lagu ini.
Apa yang membuat seseorang tidak bisa bicara tentang sesuatu yang mereka alami?
Taylor menjawab pertanyaan itu dengan menggambarkan momen-momen di lapangan perang dan di lorong rumah sakit yang begitu berat sampai kata-kata tidak lagi cukup.
Chorus lagu ini terasa seperti doa diam dari seseorang yang berdiri di sisi orang lain di momen paling gelap mereka.
Judul “epiphany” sendiri adalah sesuatu yang didambakan tapi nyaris tidak pernah datang karena yang ada hanyalah kelelahan, trauma, dan dua puluh menit tidur sebelum shift berikutnya dimulai.
Terjemahan Lirik Lagu Epiphany dari Taylor Swift
[Verse 1]
Keep your helmet, keep your life, son
Jaga helmmu, jaga hidupmu, nak
Just a flesh wound, here’s your rifle
Ini cuma luka kecil, ini senapanmu
Crawling up the beaches now
Merangkak naik ke pantai sekarang
“Sir, I think he’s bleeding out”
“Pak, saya rasa dia kehabisan darah”
And some things you just can’t speak about
Dan ada hal-hal yang benar-benar tidak bisa kamu ceritakan
[Chorus]
With you I serve, with you I fall down, down
Bersamamu aku mengabdi, bersamamu aku jatuh, jatuh
Watch you breathe in, watch you breathing out, out
Kulihat kamu menarik napas, kulihat kamu menghembuskan napas
[Verse 2]
Something med school did not cover
Sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah kedokteran
Someone’s daughter, someone’s mother
Seseorang yang adalah putri orang lain, ibu orang lain
Holds your hand through plastic now
Menggenggam tanganmu lewat plastik sekarang
“Doc, I think she’s crashing out”
“Dok, saya rasa kondisinya kritis”
And some things you just can’t speak about
Dan ada hal-hal yang benar-benar tidak bisa kamu ceritakan
[Bridge]
Only twenty minutes to sleep
Hanya dua puluh menit untuk tidur
But you dream of some epiphany
Tapi kamu memimpikan sebuah epifani
Just one single glimpse of relief
Sekadar satu kilasan kelegaan
To make some sense of what you’ve seen
Untuk mencoba memahami apa yang sudah kamu saksikan
[Chorus]
With you I serve, with you I fall down, down
Bersamamu aku mengabdi, bersamamu aku jatuh, jatuh
Watch you breathe in, watch you breathing out, out
Kulihat kamu menarik napas, kulihat kamu menghembuskan napas
[Outro]
Only twenty minutes to sleep
Hanya dua puluh menit untuk tidur
But you dream of some epiphany
Tapi kamu memimpikan sebuah epifani
Just one single glimpse of relief
Sekadar satu kilasan kelegaan
To make some sense of what you’ve seen
Untuk mencoba memahami apa yang sudah kamu saksikan
Konteks di Balik Lagu Epiphany dari Taylor Swift
Taylor Swift menulis “Epiphany” saat mengurung diri di rumah pada awal pandemi COVID-19 tahun 2020.
Selama isolasi itu, pikirannya terus berlari dan salah satu gambaran yang muncul adalah sosok kakek kandungnya dari pihak ayah, Archie Dean Swift Jr.
Dean adalah seorang tentara yang bertugas sebagai medis di Korps Marinir Amerika Serikat dan berjuang dalam beberapa pertempuran paling brutal di Teater Pasifik, termasuk Pertempuran Guadalcanal, Cape Gloucester, Talasea, dan Okinawa.
Yang membuat Taylor terus memikirkan kakeknya adalah satu fakta sederhana: Dean tidak pernah sekalipun menceritakan pengalamannya di medan perang kepada siapapun, termasuk kepada istri dan anak-anaknya.
Taylor menceritakan bahwa ketika orang bertanya mengapa kakeknya memiliki pandangan hidup yang positif, Dean hanya menjawab bahwa dirinya seharusnya tidak selamat.
Dari keheningan itulah Taylor mulai membayangkan apa yang mungkin dilihat dan dialami seseorang sampai mereka tidak sanggup lagi mengucapkan sepatah kata pun tentangnya.
Bayangan itu kemudian bertabrakan dengan realita tahun 2020, saat Taylor juga menyaksikan liputan dokumenter tentang para tenaga medis yang berjuang merawat pasien COVID-19 dengan perlengkapan seadanya dan tanpa jeda yang cukup.
Taylor dan produser Aaron Dessner dari band The National menggarap lagu ini bersama, dengan Dessner menciptakan suara yang ia gambarkan sebagai efek glasial dan es Islandia yang terasa seperti hamparan luas dan diam.
Dessner memperlambat dan membalik suara berbagai instrumen untuk menciptakan lapisan harmoni yang terasa seperti melayang, cocok untuk lirik yang bercerita tentang dua dunia yang sama-sama terhimpit antara hidup dan mati.