Makna Lagu Pejantan Tangguh - Sheila on 7

Artis

Sheila on 7

Album

Pejantan Tangguh

Tahun

2004

Genre

Alternative Rock / Pop Rock

Negara

Indonesia

Opini Redaksi

Lagu ini bercerita tentang seorang pria yang merasa dirinya terlalu penakut untuk mendekati perempuan yang ia cintai.

Ia sadar betul bahwa selama ini ia hanya bisa memandang dari jauh tanpa pernah benar-benar melangkah maju.

Kata “pejantan tangguh” dalam lagu ini bukan sekadar ungkapan maskulinitas biasa, tapi simbol keberanian yang ia rindukan ada dalam dirinya sendiri.

Ia bahkan mengakui bahwa hanya lewat mimpi ia bisa merasakan kehadiran orang yang ia cintai.

Itu bukan hal yang romantis, tapi justru terasa sangat jujur dan manusiawi.

Chorus lagu ini menjadi puncak dari pengakuan itu, di mana ia memohon untuk diajarkan menjadi sosok yang lebih berani.

Ia tahu bahwa dirinya terlalu lama bersembunyi, baik dari perasaannya sendiri maupun dari kenyataan di depannya.

Kalimat “menatap matahari pun aku tak mampu” menunjukkan betapa dalamnya rasa rendah diri yang ia rasakan.

Namun di balik semua itu, ia tidak menyerah karena di dalam persembunyiannya ia masih bernyanyi dan menari, masih hidup dan masih punya harapan.

Arti Lirik Lagu Pejantan Tangguh dari Sheila On 7

[Verse 1]

Jantan, pejantan tangguh

Itu yang kuharap ada padaku

Agar, agar diriku bisa melumpuhkan tingkah liarmu

Bait pembuka ini langsung memperlihatkan keinginan besar sang tokoh untuk menjadi sosok yang kuat dan tegas.

Ia berharap keberanian itu bisa membuatnya mampu menghadapi sikap orang yang ia cintai yang selama ini terasa sulit dijangkau.

Ada rasa frustrasi yang tersimpan di balik kalimat “melumpuhkan tingkah liarmu”, seolah ia lelah hanya menjadi penonton.

[Verse 2]

Jangan, jangan siakan kehadiranku pada mimpimu

Karna, hanya lewat mimpi

Aku bisa menjamahmu juga memilikimu

Bait ini adalah pengakuan paling jujur dalam lagu ini.

Satu-satunya ruang di mana ia merasa bisa bersama orang yang ia cintai hanyalah dalam mimpi.

Ia memohon agar kehadirannya tidak disia-siakan, meski hanya di dunia bawah sadar.

[Chorus]

Ajari aku ‘tuk jadi pejantan tangguh

Mungkin terlalu lama aku t’lah bersembunyi

Menatap mataharipun aku tak mampu

Udara malampun terlalu menusuk langkahku

Di persembunyian aku bernyanyi

Di persembunyian aku menari

Pejantan tangguh

Chorus ini adalah inti dari seluruh lagu.

Ia tidak sekadar mengeluh, tapi secara sadar meminta bantuan untuk berubah.

Gambaran “menatap matahari pun tak mampu” dan “udara malam menusuk langkah” menunjukkan betapa ia merasa lemah di hadapan perasaannya sendiri.

Namun dua baris terakhir memperlihatkan sisi lain yang penting, yaitu bahwa meski bersembunyi, ia tidak berhenti hidup dan terus mengekspresikan dirinya lewat seni.

[Bridge]

Begitu banyak lagu yang tercipta untukmu

Hanya saja aku tak bisa

Mengungkapnya kepadamu

Na-na na na-na

Bridge ini menjadi momen paling menyentuh dalam lagu.

Ia sudah menciptakan begitu banyak cara untuk mengungkapkan perasaan, tapi semuanya hanya berakhir di dalam dirinya sendiri.

Ia tidak punya keberanian untuk menyampaikan satu pun dari semua itu kepada orang yang ia cintai.

Konteks di Balik Lagu Pejantan Tangguh dari Sheila On 7

Lagu ini dirilis pada tahun 2004 sebagai bagian dari album keempat Sheila On 7 yang bertajuk sama, yaitu “Pejantan Tangguh”.

Album ini diproduksi di bawah naungan Sony BMG Indonesia dan menandai era baru dalam sound Sheila On 7.

Berbeda dari album-album sebelumnya yang menggunakan alat musik gesek, album ini menghadirkan sentuhan alat musik tiup yang membuat keseluruhan nuansa terdengar lebih matang dan berani.

Meski album ini tidak mencapai angka penjualan tiga album pendahulunya yang masing-masing menembus satu juta keping, album ini tetap terjual sekitar 450.000 kopi dan berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi termasuk AMI Award.

Lagu “Pejantan Tangguh” sendiri menjadi single unggulan yang paling dikenal dari album ini bersama “Pemuja Rahasia” dan “Itu Aku”.

Album ini juga menjadi yang terakhir bagi Anton Widiastanto sebagai drummer Sheila On 7 sebelum ia hengkang pada Oktober 2004 dan digantikan oleh Brian Kresna Putro.

Sheila On 7 sendiri adalah band asal Yogyakarta yang sudah berdiri sejak 6 Mei 1996 dan dikenal sebagai band Indonesia pertama yang berhasil menjual tiga album berturut-turut menembus satu juta keping.

Fakta Menarik tentang Lagu Pejantan Tangguh

Nama Album Diubah untuk Pasar Malaysia

Di Malaysia, judul "Pejantan Tangguh" memiliki konotasi negatif karena kata "tangguh" berarti "tunda" dan kata "pejantan" terdengar kasar dalam konteks bahasa setempat. Karena itu, Eross selaku gitaris memutuskan untuk mengubah seluruh judul album, judul lagu, dan liriknya menjadi "Pria Terhebat" khusus untuk rilis di Malaysia dan Singapura.

Album Keempat yang Jadi Titik Balik Musikal

"Pejantan Tangguh" menandai pergeseran besar dalam aransemen musik Sheila On 7, dari dominasi alat musik gesek ke alat musik tiup. Hasilnya adalah sound yang lebih dewasa dan universal meski sempat membuat sebagian penggemar butuh waktu untuk terbiasa.

Dibuka di Konser Besar

Lagu "Pejantan Tangguh" dipilih sebagai lagu pembuka di konser besar Sheila On 7 yang bertajuk "Tunggu Aku di Jakarta". Pilihan itu terbukti tepat karena penonton langsung bereaksi antusias sejak nada pertama lagu ini mengalun.

Album Terakhir Bersama Anton

Rekaman album ini menjadi momen terakhir bagi Anton Widiastanto sebagai drummer tetap Sheila On 7. Ia resmi keluar pada Oktober 2004 karena alasan kedisiplinan, dan posisinya kemudian diisi oleh Brian Kresna Putro yang sebelumnya berstatus sebagai pemain tambahan.

Tetap Ikonik Meski Penjualan Menurun

Meskipun album ini hanya terjual sekitar 450.000 kopi, jauh di bawah tiga album sebelumnya yang masing-masing menembus satu juta keping, lagu "Pejantan Tangguh" tetap menjadi salah satu lagu paling dikenal dan paling sering dinyanyikan bersama di konser Sheila On 7 hingga hari ini.