Lagu Lapang Dada dari Sheila On 7 punya pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar kisah putus cinta biasa.
Banyak orang mengira lagu ini bercerita tentang seseorang yang harus merelakan mantan kekasihnya bersama orang lain.
Padahal di balik lirik yang terdengar sederhana itu, tersimpan cerita yang sangat personal dari sang pencipta lagu.
Inti dari lagu ini adalah ajakan untuk ikhlas dan mengambil hikmah dari setiap kehilangan yang kita alami dalam hidup.
Ada rasa rindu yang begitu kuat dalam lagu ini, sebuah kerinduan pada seseorang yang sudah tidak bisa lagi dijangkau.
Chorus lagu ini seolah menjadi nasihat yang diberikan bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diri sendiri.
Lagu ini juga menggambarkan perasaan bahwa dalam setiap perpisahan atau kehilangan, ada dua pihak yang sama-sama merasakan kepedihan.
Bagian outro “mengirim cahaya untukmu” adalah kalimat paling kuat dalam lagu ini karena ia menggambarkan doa yang dikirimkan kepada seseorang yang sudah tiada.
Eross Candra berhasil menulis lagu yang terasa universal sehingga setiap pendengar bisa menginterpretasikannya sesuai pengalaman masing-masing.
Itulah mengapa lagu ini tetap relevan dan menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya, bahkan bertahun-tahun setelah pertama kali dirilis.
Arti Lirik Lagu Lapang Dada dari Sheila On 7
[Verse 1]
Apa yang salah dengan lagu ini?
Kenapa kembali ku mengingatmu?
Seperti aku bisa merasakan
Getaran jantung dan langkah kakimu
Bait pertama ini menggambarkan bagaimana sebuah lagu bisa memicu kenangan yang sudah lama tersimpan.
Si aku merasa heran karena tiba-tiba teringat seseorang secara begitu nyata, seolah bisa merasakan kehadiran fisik orang itu.
Ada kesan bahwa kenangan ini datang tanpa bisa dicegah, dan itu membuat si aku bertanya-tanya mengapa hal itu terjadi.
[Pre-Chorus]
Ke mana ini akan membawaku?
Satu kalimat pendek ini menyimpan kegelisahan yang besar.
Si aku tidak tahu ke mana arah perasaan ini akan membawanya, dan ketidakpastian itu terasa berat.
[Chorus]
Kau harus bisa, bisa berlapang dada
Kau harus bisa, bisa ambil hikmahnya
Karena semua, semua tak lagi sama
Walau kau tahu dia pun merasakannya, ah ah
Chorus ini adalah inti dari seluruh lagu, sebuah pesan untuk menerima kenyataan bahwa segalanya sudah berubah dan tidak akan kembali sama.
Kalimat “walau kau tahu dia pun merasakannya” menegaskan bahwa rasa kehilangan ini dirasakan oleh kedua belah pihak, bukan hanya si aku seorang.
Kata “berlapang dada” dalam konteks ini bukan berarti berpura-pura tidak sakit, tapi benar-benar menerima dan mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi.
[Verse 2]
Di jalan yang setapak kecil ini
Seperti ku mendengar kau bernyanyi
Kau tahu, kau tahu
Rasaku juga rasamu, uh uh
Bait kedua ini menggambarkan momen ketika si aku berada di tempat tertentu lalu seolah mendengar suara orang yang dirindukan.
Kalimat “rasaku juga rasamu” menjadi pengakuan yang sangat tulus bahwa apa yang dirasakan si aku dulu, mungkin juga pernah dirasakan oleh orang yang kini sudah pergi.
Ini adalah bait yang menggambarkan empati dan pengertian yang datang terlambat, ketika seseorang sudah tidak ada lagi untuk mendengarnya.
[Bridge]
Ke mana ini akan membawaku?
Aku takkan pernah tahu
Bridge ini adalah momen paling jujur dalam lagu, ketika si aku akhirnya menerima bahwa ia tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan yang selama ini menghantuinya.
Penerimaan itu terasa berat, tapi justru di situlah proses berlapang dada benar-benar dimulai.
[Outro]
Mengirim cahaya untukmu
Penutup lagu ini hanya terdiri dari satu kalimat, tapi maknanya sangat dalam.
“Mengirim cahaya” adalah gambaran dari sebuah doa yang tulus, yang dipanjatkan untuk seseorang yang sudah berpulang.
Ini sekaligus menjadi konfirmasi bahwa lagu ini memang ditujukan untuk seseorang yang sudah tiada, bukan sekadar mantan kekasih.
Konteks di Balik Lagu Lapang Dada dari Sheila On 7
Lapang Dada diciptakan oleh Eross Candra, gitaris Sheila On 7, dan dirilis pada 28 November 2014 sebagai single utama album kedelapan mereka, Musim Yang Baik.
Eross mengungkapkan bahwa lagu ini lahir dari perasaannya terhadap almarhum ayahnya yang meninggal dunia pada tahun 2000.
Ketika ayahnya wafat, Eross mengaku menerima kepergian itu dengan cukup lapang dada pada saat itu.
Namun perasaan kehilangan yang sesungguhnya justru datang bertahun-tahun kemudian, ketika Eross sendiri sudah menjadi seorang ayah.
Semakin dekat hubungan Eross dengan putranya, El Pitu Candra, semakin ia menyadari betapa banyak hal yang belum sempat ia bicarakan bersama sang ayah.
Dari kesadaran itulah lirik “rasaku juga rasamu” muncul, sebuah refleksi bahwa apa yang kini ia rasakan sebagai ayah, mungkin juga pernah dirasakan oleh bapaknya dulu.
Vokalis Duta menambahkan bahwa Eross memang bukan pencipta lagu yang suka mengemas tema berat secara harfiah.
Eross sengaja membuat lirik yang terasa ringan dan universal agar pendengar bisa menikmatinya dengan interpretasi masing-masing.
Bahkan video klip lagu ini pun mengangkat tema cinta romantis yang berbeda dari inspirasi aslinya, sehingga pesan lagu bisa diterima lebih luas oleh semua kalangan.