Lagu Bertaut bukan sekadar lagu biasa yang enak didengar.
Ini adalah curahan hati seorang anak kepada ibunya, disampaikan dengan bahasa yang jujur, tajam, dan sangat personal.
Nadin memulai lagu ini dengan kalimat yang mengejutkan banyak orang saat pertama kali mendengarnya.
Ia menggambarkan hidup yang keras, penuh tekanan, dan kadang terasa menyesakkan seperti orang yang berjalan tanpa arah.
Di tengah semua kesulitan itu, ada satu sosok yang selalu hadir tanpa diminta dan tidak pernah pergi meski keadaan sedang paling berat.
Sosok itu adalah ibu.
Nadin menggambarkan ibunya bukan hanya sebagai tempat bersandar, tapi sebagai bagian dari dirinya yang paling inti.
Ia menyebut ibunya sebagai pangeran, sebuah pilihan kata yang unik dan penuh hormat dari seorang anak kepada sosok yang ia anggap paling gagah dalam hidupnya.
Ada sesuatu yang menarik dari cara Nadin menyampaikan rasa cintanya kepada ibu karena ia tidak menggunakan kata-kata manis yang biasa.
Ia justru berbicara tentang persamaan sifat, tentang kekeraskepalaaan yang diwarisi, tentang cara marah dan cara tersenyum yang ternyata sama persis.
Dan dari kesamaan itu, Nadin menemukan bahwa semakin ia mencoba memahami dirinya sendiri, semakin ia memahami ibunya juga.
Itulah mengapa lagu ini terasa sangat dekat bagi siapa pun yang pernah tumbuh bersama sosok ibu yang kuat namun diam dalam perjuangannya.
Arti Lirik Lagu Bertaut dari Nadin Amizah
[Verse 1]
Bun, hidup berjalan seperti bajingan
Seperti landak yang tak punya teman
Ia menggonggong bak suara hujan
Dan kau pangeranku mengambil peran
Nadin membuka dengan jujur bahwa hidup di luar sana terasa kasar dan tidak bersahabat.
Gambaran landak yang tak punya teman mewakili perasaan terisolasi, seseorang yang sulit didekati di tengah dunia yang keras.
Tapi di sinilah ibu masuk mengambil peran, hadir sebagai sosok yang gagah di saat sang anak merasa paling lemah.
[Verse 1 lanjutan]
Bun, kalau saat hancur ‘ku disayang
Apalagi saat kujadi juara
Saat tak tahu arah kau di sana
Menjadi gagah saat ‘ku tak bisa
Bait ini menegaskan bahwa kasih sayang ibu tidak pilih-pilih momen.
Ketika sang anak jatuh dan hancur pun, ibu tetap ada dengan pelukan yang sama hangatnya seperti saat sang anak meraih keberhasilan.
Kalimat terakhir sangat kuat karena menggambarkan ibu yang menjadi tegak justru di saat anaknya tidak mampu berdiri sendiri.
[Pre-Chorus]
Sedikit kujelaskan tentangku dan kamu
Agar seisi dunia tahu
Nadin seolah ingin mengumumkan kepada dunia tentang ikatan yang ia miliki bersama ibunya.
Ini bukan sekadar curahan hati pribadi, melainkan sebuah pernyataan terbuka tentang betapa pentingnya sosok ibu dalam perjalanan hidupnya.
[Chorus]
Keras kepalaku sama denganmu
Caraku marah, caraku tersenyum
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala kar’na denganmu
Aku masih ada sampai di sini
Melihatmu kuat setengah mati
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala kar’na denganmu
Bagian chorus ini adalah inti dari seluruh lagu.
Nadin menemukan bahwa ia dan ibunya adalah cerminan satu sama lain, dari cara marah hingga cara tersenyum, semuanya sama.
Frasa “detak jantung yang bertaut” menjadi gambaran paling kuat tentang ikatan yang tidak bisa diputus, dua nyawa yang saling menghidupi.
Kalimat “nyawaku nyala kar’na denganmu” adalah pengakuan bahwa keberadaan ibu adalah alasan mengapa sang anak masih terus bertahan dan berjuang.
[Verse 2]
Bun, aku masih tak mengerti banyak hal
Semuanya berenang di kepala
Dan kau dan semua yang kau tahu tentangnya
Menjadi jawab saat ‘ku bertanya
Nadin mengakui bahwa ia masih banyak tidak tahu tentang hidup ini.
Tapi ibu selalu menjadi sumber jawaban yang tidak pernah kering, bahkan untuk pertanyaan yang paling sederhana sekalipun.
Gambaran pikiran yang “berenang di kepala” menunjukkan betapa kacaunya dunia batin sang anak, dan betapa tenangnya ketika ibu ada di sana untuk menjernihkan semuanya.
[Outro]
Semoga lama hidupmu di sini
Melihatku berjuang sampai akhir
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala kar’na denganmu
Bagian penutup ini adalah doa yang paling tulus dari seorang anak kepada ibunya.
Nadin tidak meminta kemewahan atau hal besar, ia hanya ingin ibunya panjang umur dan bisa menyaksikan dirinya terus berjuang.
Kalimat ini sangat sederhana namun menyimpan kedalaman rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata lain.
Konteks di Balik Lagu Bertaut dari Nadin Amizah
Bertaut dirilis pada 28 Mei 2020, tepat di hari ulang tahun Nadin yang ke-20.
Lagu ini merupakan bagian dari album debut Nadin yang diberi judul Selamat Ulang Tahun, sebuah album yang secara keseluruhan didedikasikan untuk orang-orang paling dekat dalam hidupnya.
Nadin pernah mengungkapkan dalam sebuah wawancara di acara Vindes bahwa ia dan ibunya memiliki banyak kesamaan sifat, dan dari kesamaan itulah lagu Bertaut lahir.
Ia menyebutkan bahwa semakin ia berusaha memahami dirinya sendiri, semakin ia bisa memahami sang ibu, dan dari pemahaman itulah ia semakin mencintai ibunya.
Proses penulisan lagu ini melibatkan tiga orang, yaitu Nadin sendiri bersama Mikha Angelo Brahmantyo dan Zulqi Lael Ramadhana.
Latar belakang keluarga Nadin turut membentuk kedalaman emosi dalam lagu ini karena orang tuanya berpisah ketika Nadin masih kecil, sehingga ia tumbuh bersama neneknya di Bandung sementara ibunya bekerja di Jakarta.
Kondisi itu membuat setiap momen bersama ibu menjadi sangat berharga bagi Nadin, dan kerinduan itu tercermin jelas dalam setiap bait Bertaut.
Nadin juga pernah bercerita bahwa bakat sastranya adalah warisan langsung dari sang ibu yang merupakan alumni jurusan sastra, sehingga kecintaan pada kata-kata sudah menjadi jalinan antara keduanya jauh sebelum lagu ini lahir.