Lagu ini bukan tentang kemacetan, gedung pencakar langit, atau hiruk pikuk ibu kota.
Jakarta di sini adalah simbol dari semua yang berubah setelah seseorang kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya.
Tokoh “aku” dalam lagu ini hidup dalam penyesalan yang dalam karena menyadari bahwa ia pernah menyakiti orang yang ia cintai.
Penyesalan itu bukan sesuatu yang bisa diperbaiki, karena semua sudah terjadi dan waktu tidak bisa diputar kembali.
Ada momen paling getir di lagu ini saat tokoh “aku” menerima kabar bahwa orang yang dulu ia sakiti kini sedang bahagia dengan orang lain.
Kabar itu menyakitkan bukan karena cemburu, tapi karena ia sadar ia gagal menjadi orang yang seharusnya membuat orang itu bahagia.
Lagu ini kemudian bergerak ke arah yang lebih bijak lewat suara Cynantia yang mengingatkan bahwa setiap perpisahan dan rasa sakit punya tujuannya sendiri.
Rasa sakit bukan sesuatu yang harus dihindari karena justru dari sanalah seseorang belajar arti kehilangan dan tumbuh menjadi manusia yang lebih utuh.
Di bagian akhir, tokoh “aku” akhirnya memilih untuk melepaskan bukan karena menyerah, tapi karena ia tahu bahwa kadang mencintai seseorang berarti merelakan kebahagiaannya meski itu bukan bersamamu.
Arti Lirik Lagu Jakarta Hari Ini dari For Revenge ft. Stereo Wall
[Verse 1: Boniex]
Jakarta hari ini tak pernah sama
Jika dahulu ku tak pernah membuatnya kecewa
Jakarta hari ini tak pernah ada
Jika dahulu ku tak pernah membuatnya menyeka
Air mata
Bait pembuka ini langsung memukul dengan penyesalan yang berat.
Tokoh “aku” menghubungkan kondisi Jakarta hari ini dengan kesalahan yang pernah ia buat di masa lalu.
Jakarta bukan sekadar kota, ia menjadi cermin dari semua yang berubah akibat perbuatannya sendiri.
[Verse 2: Boniex]
Dan sebuah pesan menyapa
Menjelang hari bahagia
Tanpa namaku yang di sana
Temanimu selamanya
Menyakitkan
Ini terlalu satir
Terlampau getir untuk diterima
Di sini tokoh “aku” menerima pesan yang berisi kabar bahagia dari orang yang dulu ia sakiti.
Orang itu kini punya seseorang lain yang menemaninya, dan nama tokoh “aku” tidak ada di sana.
Ironi yang terasa terlalu pahit untuk ditelan karena di hari paling bahagia seseorang, ia justru benar-benar tidak ada.
[Interlude]
(But perhaps you hate a thing and it’s good for you)
(And perhaps you love a thing and it’s bad for you)
Penggalan berbahasa Inggris ini menjadi jeda reflektif yang kuat di tengah lagu.
Kalimat ini seperti pengingat bahwa apa yang kita benci bisa jadi berkah, dan apa yang kita cintai bisa jadi justru merusak kita.
Ini memberi landasan filosofis untuk bagian berikutnya tentang rasa sakit yang perlu dialami.
[Verse 3: Cynantia]
Yang datang dan pergi
‘Kan membuatmu mengerti
Kadang kita perlu tersakiti ‘tuk mengenal perih
Yang datang dan pergi
Semua yang harus dilalui
Kadang kita perlu tersakiti
‘Tuk menjadi manusia
Masuknya suara Cynantia di sini terasa seperti perspektif dari luar, seseorang yang melihat situasi dengan lebih jernih.
Ia tidak menyangkal rasa sakit itu, tapi ia meyakinkan bahwa semua perpisahan punya perannya dalam membentuk siapa kita.
Kalimat “tuk menjadi manusia” adalah inti dari seluruh lagu, bahwa luka adalah bagian dari proses menjadi seseorang yang lebih lengkap.
[Chorus: Cynantia, Boniex]
Akhirnya ku menyerah
Maafkanku yang menyela
Jika dahulu ku tak pernah membuatmu bahagia
Akhirnya ku mengalah
Dan biarkan kau menyala
Meski harus kulewati pedih yang tiada akhirnya
Akhirnya ku menyerah
Maafkanku yang menyela
Jika dahulu ku tak pernah membuatmu bahagia
Akhirnya ku mengalah
Merelakanmu dengannya
Dan rayakanlah hari-hari terindahmu di sana
Chorus ini adalah puncak emosional dari seluruh lagu.
Tokoh “aku” akhirnya memilih untuk tidak lagi bertahan pada rasa bersalah dan memilih merelakan.
“Biarkan kau menyala” adalah kalimat paling tulus di lagu ini karena ia mendoakan orang yang pernah ia sakiti untuk bersinar tanpa kehadirannya.
Merelakan di sini bukan kekalahan, tapi bentuk paling dewasa dari cinta.
Konteks di Balik Lagu Jakarta Hari Ini dari For Revenge ft. Stereo Wall
“Jakarta Hari Ini” dirilis pada 28 Februari 2021 sebagai singel kolaborasi antara For Revenge dari Bandung dan Stereo Wall dari Jakarta.
Lagu ini menjadi bagian dari narasi besar yang selalu For Revenge bawa dalam karya mereka, yaitu tema patah hati yang dieksplorasi dari berbagai sudut.
Boniex, vokalis For Revenge yang juga menulis lirik lagu ini, mengungkapkan bahwa Jakarta punya tempat yang sangat personal baginya karena kota itu mengajarkan banyak hal tentang menjadi manusia.
Dalam proses produksinya, For Revenge bertanggung jawab menulis lirik sementara Stereo Wall mengerjakan seluruh aransemen musiknya.
Kedua band kemudian memadukan karakter modern rock yang mereka miliki dengan sentuhan orkestra dan choir untuk menciptakan atmosfer yang lebih besar dan dramatis.
Sutradara video musiknya, Marisca Surahman asal Bandung, mengangkat konsep tentang dua kemungkinan dalam sebuah hubungan yaitu berpisah atau terus berjalan bersama.
Video musik itu diunggah di YouTube For Revenge pada 30 April 2021 dengan visual yang berbeda dari karya mereka sebelumnya, menampilkan Boniex dan Cynantia dalam balutan setelan rapi layaknya sentuhan drama Korea.