Lagu ini bicara soal satu hal yang hampir semua orang pernah rasakan: tidak bisa melupakan seseorang yang sudah pergi.
Bukan soal tidak mau move on, tapi soal tidak bisa, meski sudah dicoba berkali-kali.
Ada bagian dari diri yang berubah karena orang itu pernah hadir, dan perubahan itu tidak bisa ditarik kembali.
Yang tadinya dikira hanya hubungan sementara, ternyata jejaknya menetap jauh lebih lama dari yang dibayangkan.
Lagu ini juga mengangkat rasa yang lebih kompleks: si penyanyi tahu mantan sudah bahagia, tapi dia sendiri masih belum bisa menemukan cara untuk merasakan hal yang sama.
Ada keinginan untuk lupa, tapi justru keinginan itu yang mengingatkan betapa berartinya orang tersebut dulu.
Boniex dan Fiersa membagi peran dengan natural; Boniex membawa sisi yang masih berjuang, sementara Fiersa membawa sisi yang terasa lebih dalam dan personal.
Bagian akhir lagu adalah yang paling berat: ada pengakuan bahwa kenangan ini tidak akan hilang, bahwa orang itu “masih ada, selamanya” di dalam diri.
Bukan dalam arti harfiah, tapi dalam arti bahwa pengalaman bersama orang itu sudah membentuk siapa kita sekarang, termasuk ketidaksempurnaan dan ketidakbahagiaan yang kita bawa.
Lagu ini tidak menawarkan solusi atau harapan palsu, hanya kejujuran yang mentah tentang betapa sulitnya belajar seni melupakan.
Arti Lirik Lagu Ada Selamanya dari For Revenge ft. Fiersa Besari
[Verse 1: Fiersa]
Untuk yang pernah ada
Dan menetap di kepala
Yang ku kira sementara
Ternyata selamanya
Bait pembuka ini langsung memukul dengan pengakuan yang jujur.
Seseorang yang pernah hadir dalam hidup ternyata tidak bisa begitu saja diusir dari pikiran.
Ada harapan awal bahwa kenangannya akan memudar, tapi kenyataannya justru sebaliknya.
Kata “menetap” bukan pilihan yang kebetulan, ia menggambarkan sesuatu yang diam di dalam kepala seperti penghuni tetap yang tidak pernah izin pergi.
[Verse 2: Boniex]
Untuk yang pernah singgah
Kudengar kau telah bahagia
Sudikah berbagi caranya?
Karena ku tak bisa
Bait ini menghadirkan lapisan rasa sakit yang berbeda.
Bukan hanya soal rindu, tapi soal melihat seseorang yang sudah pergi berhasil bahagia sementara dirinya sendiri belum bisa.
Pertanyaan “sudikah berbagi caranya?” terasa seperti jeritan yang disamarkan dalam kalimat sopan.
Ada ironi yang pedih di sini: orang yang pergi justru tampak lebih baik-baik saja dibanding yang ditinggalkan.
[Chorus: Boniex & Fiersa]
Kuhanya ingin lupa
Hanya ingin lupa
Karena kau pernah ada
Menjadikanku istimewa
Chorus ini adalah inti dari seluruh lagu.
Dua suara yang berbeda karakter, Boniex dan Fiersa, menyanyikan satu keinginan yang sama: ingin lupa.
Tapi ada paradoks di dalamnya: alasan ingin lupa justru adalah karena orang itu pernah membuat hidup terasa istimewa.
Semakin dalam kenangan yang indah itu, semakin sulit pula untuk melepaskannya.
[Verse 3: Fiersa]
Katanya serahkan saja
Pada waktu yang berkuasa
Kelak ku terbiasa
Sendiri dan jadi dewasa
Bait ini menggambarkan nasihat yang sering diberikan orang lain kepada seseorang yang sedang patah hati.
“Serahkan pada waktu” adalah kalimat yang terdengar bijak, tapi di sini Fiersa membawanya dengan nada yang skeptis.
Ada kesadaran bahwa mungkin suatu hari nanti ia akan terbiasa, tapi kata “kelak” terasa sangat jauh dan tidak pasti.
Proses menjadi dewasa melalui rasa sakit digambarkan bukan sebagai sesuatu yang heroik, tapi sebagai sesuatu yang melelahkan.
[Verse 4: Boniex]
Nyatanya aku tak bisa
Jika nanti sampai menua
Tak henti berpura-pura
Kau dan aku tak pernah ada
Ini adalah bagian paling jujur dan paling berat dalam lagu ini.
Boniex secara langsung menolak narasi bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya.
Gambaran “sampai menua” menunjukkan ketakutan bahwa rasa ini bukan sesuatu yang sementara.
Dan baris terakhir, tentang berpura-pura mereka tidak pernah ada, adalah pengakuan bahwa menyangkal sebuah hubungan yang nyata adalah hal yang mustahil dilakukan selamanya.
[Chorus Akhir & Outro: Boniex & Fiersa]
Kuhanya ingin lupa
Hanya ingin lupa
Karena kau masih ada
Dan menjadikanku manusia
Yang tak sempurna
Yang tak bahagia
Masih ada
Selamanya
Chorus terakhir ini berbeda dari chorus pertama dan itulah yang membuatnya begitu kuat.
Kalimatnya bergeser dari “kau pernah ada” menjadi “kau masih ada”, sebuah perubahan kecil yang maknanya sangat besar.
Orang itu tidak lagi hadir secara fisik, tapi keberadaannya masih terasa nyata di dalam diri.
Dua kata terakhir di outro, “masih ada, selamanya”, bukan kesimpulan yang membahagiakan, melainkan sebuah penerimaan yang menyakitkan bahwa beberapa kenangan memang tidak pernah benar-benar pergi.
Konteks di Balik Lagu Ada Selamanya dari For Revenge ft. Fiersa Besari
For Revenge merilis “Ada Selamanya” pada 25 Februari 2023 di bawah naungan Didi Music Records sebagai single pembuka menuju album kelima mereka.
Single ini menjadi kolaborasi pertama antara band emo asal Bandung itu dengan Fiersa Besari, yang selama ini dikenal lewat karya-karya sastranya yang kuat dan lirik yang penuh perasaan.
Boniex, vokalis For Revenge, mengungkapkan bahwa Fiersa Besari sudah ada di daftar paling atas kolaborator impian mereka sejak band memulai era baru pada 2020.
Ketertarikan itu murni karena kecintaan mereka pada karya sastra Fiersa, baik buku maupun lirik-liriknya.
Fiersa Besari sendiri biasanya baru mau berkolaborasi jika ia terlibat langsung dalam proses penciptaan lagu, namun “Ada Selamanya” menjadi pengecualian langka.
Ketika pertama kali mendengar demo lagu ini, Fiersa merasa lagunya begitu cocok dengan sisi lama dirinya yang sudah lama tidak muncul ke permukaan.
Lirik “Ada Selamanya” ditulis oleh Boniex bersama gitaris Arief Ismail, sehingga Fiersa hanya menyumbangkan suaranya tanpa terlibat dalam penulisan.
Boniex menggambarkan tema lagu ini sebagai upaya mempelajari “seni melupakan” yang jauh lebih sulit dibanding belajar mengingat.
Lagu ini juga menjadi sinyal awal bahwa album kelima For Revenge, Perayaan Patah Hati Babak 2, sedang dalam perjalanan menuju pendengar.