Lagu “Ali” bukan sekadar lagu biasa, ini adalah kisah seorang pemuda idealis yang akhirnya berubah menjadi sosok yang ia benci sendiri.
“Ali” menggambarkan kekecewaan masyarakat secara kolektif terhadap figur pemimpin yang datang silih berganti, namun selalu mengecewakan dan bahkan terbukti lebih buruk dari para pendahulunya.
Lirik lagu ini disampaikan dari sudut pandang Ali sendiri, seorang tokoh yang penuh keyakinan bahwa dirinya adalah penyelamat bangsa.
Pertanyaan retoris “Siapa yang dipercaya, menyesalkah kita?” bukan ditujukan kepada Ali, melainkan kepada kita sebagai pendengar yang selalu berulang kali menaruh harapan pada seorang figur.
Penyebutan “Warta Jayabaya” dalam chorus mengacu pada nubuat dan harapan akan datangnya era baru, sementara frasa “Tuhan manusia” menggambarkan kekuatan figur ini yang hampir menyerupai keilahian.
Menurut Ryo Bodat, karakter Ali pada dasarnya adalah seseorang yang mempunyai idealisme terselubung berupa balas dendam, dan ketika mendapat kekuasaan, ia pun menjadi semena-mena bahkan lebih parah dari pemimpin sebelumnya.
Yang membuat lagu ini begitu memukul adalah kesimpulan yang ditarik di penghujung album: setiap orang berpotensi menjadi Ali, dan ketika diberi kekuasaan, penyalahgunaan kekuasaan sangat mungkin dilakukan siapa pun.
Analisis Lirik Lagu Ali oleh .Feast
[Verse 1]
Gunung, laut, angkasa (gunung, laut, angkasa)
Aku yang berkuasa (aku yang berkuasa)
Perintahku perkasa (perintah ku perkasa)
Figur pilihan bangsa (figur pilihan bangsa)
Bait pertama ini sepenuhnya disampaikan dari mulut Ali. Ia mengklaim kekuasaan atas alam semesta.
Penggunaan “gunung, laut, angkasa” bukan kebetulan karena ini simbol kekuasaan tertinggi dalam imajinasi kolektif nusantara.
Kalimat “figur pilihan bangsa” menandakan legitimasi yang ia pegang berasal dari rakyat, bukan dari warisan atau paksaan.
[Pre-Chorus]
Siapa yang dipercaya, menyesalkah kita?
Satu baris ini adalah jantung dari seluruh lagu. Pertanyaan ini diulang dua kali, dan setiap kali muncul, bobotnya semakin berat.
.Feast tidak memberikan jawaban karena jawabannya sudah kita tahu dari pengalaman berkali-kali.
[Chorus]
Kubenahi nusantara
Raja di khatulistiwa
Warta Jayabaya tiba
Tuhan manusia (berkuasa)
Chorus ini adalah puncak dari ilusi kebesaran Ali. Ramalan Jayabaya, yang dikisahkan oleh Prabu Jayabaya dari Kediri, meramalkan hadirnya sosok Ratu Adil yang akan memimpin nusantara menuju kejayaan.
Suakasuara Ali meyakini dirinya adalah pemenuhan ramalan itu. Frasa “Tuhan manusia” adalah puncak arogansi sekaligus kritik paling tajam dalam lagu ini.
[Verse 2]
Neraka dan kahyangan (neraka dan kahyangan)
Dalam telapak tangan (dalam telapak tangan)
Semua ia ratakan (semua ia ratakan)
Semua ia dirikan (semua ia dirikan)
Jika verse 1 bicara soal klaim atas alam fisik, verse 2 melampaui itu ke ranah spiritual. Ali bahkan mengklaim kuasa atas neraka dan kahyangan.
Kata “ratakan” dan “dirikan” yang berdampingan menunjukkan kekuasaan absolut: ia bisa menghancurkan dan membangun sesuai kehendaknya sendiri.
[Outro]
A-A-Ali
Sebut namanya sejuta kali!
Outro yang berulang tanpa henti ini adalah adegan paling mengerikan dalam lagu. Nama Ali digaungkan seperti mantra atau chant massa yang sudah terhipnotis.
Ini bukan perayaan, ini peringatan tentang bagaimana pemujaan buta terhadap seorang figur bisa mencabut akal sehat sebuah bangsa.
Konteks di Balik Lagu Ali oleh .Feast
Lagu “Ali” pertama kali diperkenalkan melalui mini album “Sounds Cute Might Delete Later” pada 2021, sebelum kemudian menjadi tajuk album ketiga .Feast yang bertajuk “Abdi Lara Insani.”
Baskara Putra, vokalis sekaligus penulis lirik .Feast, mengungkapkan bahwa inspirasinya adalah membayangkan bagaimana jadinya jika sosok Bento dalam lagu Iwan Fals dulunya adalah orang baik yang dimajukan dan dicintai rakyat, sebelum akhirnya berubah menjadi figur yang korup.
Lagu “Ali” sendiri sebenarnya merupakan daur ulang dari materi lama .Feast yang sebelumnya berjudul “Ho Ho Holy”, di mana lirik seperti “with God as my weapon” bertransformasi menjadi “Tuhan manusia”, dan “i’ll never stagger up on stages” menjadi “Kubenahi Nusantara.”
Kisah Ali dalam lagu-lagu .Feast sengaja dibuat mengaburkan garis antara fiksi dan kenyataan, karena kisah seperti ini begitu sering terdengar di ruang publik hingga bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.