Makna Lagu Berita Kehilangan - .Feast

Artis

.Feast

Album

Beberapa Orang Memaafkan

Tahun

2018

Genre

Alternative Roc

Negara

Indonesia
Opini Redaksi

Lagu ini bercerita dari sudut pandang seseorang yang sudah meninggal dunia akibat kekerasan.

Verse pertama menggambarkan tubuh sang korban yang sudah tidak bernyawa, namun jiwanya masih mengambang dan menatap apa yang terjadi di sekitarnya.

Chorus lagu ini membelah manusia menjadi dua kelompok besar: mereka yang memilih memaafkan, dan mereka yang justru menjadi pembawa duka lewat tindakan serta kata-kata menyakitkan.

Lirik lagu ini menyimpan kritik tajam tentang hilangnya rasa kemanusiaan pada diri seseorang, di mana masalah yang seharusnya diselesaikan secara kekeluargaan justru berakhir dengan pembunuhan.

Bagian yang dinyanyikan Rayssa Dynta merupakan penggalan surat asli dari seorang ibu kepada anaknya yang telah meninggal.

Bridge lagu ini menjadi kutukan halus yang ditujukan kepada pelaku kekerasan, menyatakan bahwa tidak ada kedamaian yang bisa mereka rasakan, tidak di dunia dan tidak pula di akhirat.

Outro yang berulang, “Di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati,” terasa seperti pesan terakhir yang pahit tapi jujur bagi siapa pun yang masih hidup.

Lagu ini bukan sekadar ratapan, ia adalah teguran keras yang dibungkus dengan kepedihan yang sangat manusiawi.

Analisis Lirik Lagu Berita Kehilangan oleh .Feast

[Verse 1: Baskara]
Badanku terkujur kaku, bentuk malang melintang
Tertutup mataku namun cahaya semakin terang
Jiwaku mengambang tinggi terus melayang-layang
Nyawaku dirampas namun kita yang jaya perang

Bagian pembuka ini mengambil perspektif orang yang baru saja meninggal.

Ia menggambarkan pengalaman roh yang meninggalkan tubuh, sekaligus menegaskan bahwa kematiannya bukan sebuah kekalahan karena kebenaran tetap menang meski nyawa direnggut.

[Pre-Chorus: Baskara]
Biarkan aku pergi dengan tenang
Bunda, kali ini saja jangan menangisi jasadku
Namaku abadi
Kebencian takkan pernah menang karena

Sang korban meminta ibunya untuk tidak berduka berlebihan.

Ada ketenangan dan keikhlasan di sini. Ia percaya bahwa namanya akan dikenang, dan kebencian yang membunuhnya tidak akan pernah benar-benar menang.

[Chorus: Baskara]
Beberapa orang memaafkan
Beberapa yang lain yang membawa
Berita kehilangan melalui
Perbuatan, perkataan menyakitkan

Chorus ini adalah inti dari seluruh lagu.

Dunia terbagi dua: ada yang berlapang dada dan memaafkan, ada pula yang justru menjadi sumber luka bagi orang lain melalui tindakan dan ucapan mereka yang menyakitkan.

[Verse 2: Rayssa Dynta]
Jika ini memang caranya
Menggenapkan namamu yang kuberikan
Sama seperti artinya
Saat kau berkorban, menyadarkan
Sayang, kau telah menjadi abadi
Di hati, di sejarah kami
Dan kurelakan hari ini, besok, lusa
Atau lain kali, karena

Lirik pada bagian ini adalah penggalan surat seorang ibu yang kehilangan anaknya.

Baskara mengungkapkan bahwa ia tidak bisa menceritakan kejadian spesifik apa yang menimpa anak tersebut, karena sang ibu meminta nama dan kejadiannya dirahasiakan.

Bagian ini menjadi momen paling emosional dalam lagu, karena kata-katanya nyata dan bukan fiksi.

[Bridge: Rayssa Dynta]
Takkan ada kedamaian di hidupmu
Takkan ada ketenteraman di kamarmu
Takkan ada keberlanjutan namamu
Takkan ada kedamaian di surgamu

Bridge ini berubah nada menjadi sebuah sumpah. Kalimat yang berulang dan tegas ini ditujukan kepada pelaku kekerasan. Tidak ada tempat berlindung bagi mereka, tidak di dunia, tidak pula di langit.

[Outro: Baskara & Rayssa]
Di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati

Pengulangan kalimat ini tujuh kali bukan tanpa makna. Ini adalah penutup yang terasa seperti mantra atau peringatan kolektif: bahwa hidup ini rapuh, dan siapa pun bisa menjadi korban berikutnya jika tidak ada yang berubah.

Konteks di Balik Lagu Berita Kehilangan oleh .Feast

“Berita Kehilangan” dirilis pada 10 Agustus 2018 sebagai singel kedua dari mini album perdana .Feast, Beberapa Orang Memaafkan. Lagu ini terinspirasi dari tragedi pengeboman di Surabaya pada 2018.

Menurut vokalis Baskara Putra, inspirasi awalnya datang dari berita tentang keluarga korban bom di gereja Surabaya yang sudah memaafkan para teroris. “Membacanya ingin menangis,” tulis Baskara dalam catatan produksi album.

Selain bom Surabaya, Baskara juga mengangkat sebuah kasus yang sempat ramai beberapa tahun sebelumnya, yaitu tewas tertusuknya Raafi Aga Winasya Benyamin, teman sekolah Baskara, dalam perkelahian di tempat hiburan malam pada 5 November 2011, kurang dari sebulan sebelum ulang tahun Raafi yang ke-18.

Sang ibu dari korban memberikan restu untuk menggunakan penggalan suratnya dalam lagu ini, namun meminta Baskara untuk tidak mempublikasikan namanya maupun nama anaknya.

Fakta Menarik tentang Lagu Berita Kehilangan

Lirik Verse 2 Bukan Fiksi

Bagian yang dinyanyikan Rayssa Dynta bukan tulisan Baskara, melainkan penggalan surat asli seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat kekerasan. Baskara mendapat izin dari sang ibu untuk menggunakannya, tapi identitas keduanya sengaja dirahasiakan sesuai permintaan.

Lagu Ini Mengandung Kutipan dari Barasuara

Di "Berita Kehilangan", .Feast menyertakan penggalan lagu "Taifun" dari Barasuara, sebuah praktik yang juga mereka lakukan di lagu "Peradaban" dengan meminjam kalimat dari Banda Neira. Ini menjadi cara .Feast untuk merajut kekerabatan antar musisi Indonesia dalam satu karya.

Video Musik Berbentuk Vertikal

Video musik lagu ini menampilkan para personel .Feast berdiri di sebuah kuburan bersama Rayssa Dynta, dan dikemas dalam format vertikal agar mudah ditonton langsung dari layar ponsel tanpa harus mengubah orientasi.

Cover Album Terinspirasi dari Bunda Maria

Sampul album Beberapa Orang Memaafkan menampilkan sosok yang ditutupi kain kafan berlumuran darah. Ide ini datang dari Baskara dan fotografer Mikael Aldo, dan darah pada kain kafan melambangkan kesedihan Bunda Maria yang menangis darah saat mendapati kabar tragedi kemanusiaan.

Band yang Lahir dari Kampus

.Feast dibentuk sejak 2012 oleh sejumlah mahasiswa FISIP UI, dan hingga kini aktif berjalan dengan lima personel tetap. Latar belakang akademis mereka di ilmu sosial tampak jelas dalam cara mereka menulis lirik yang kritis dan berbasis realita.